Kaleidoskop 2022: Perang Rusia-Ukraina dan Dampaknya terhadap Geopolitik

Ahmad Islamy Jamil
Tank-tank pasukan pro-Rusia melintas di salah satu jalan di Kota Mariupol, Ukraina, Maret lalu. (Foto: Reuters)

Konsolidasi Barat vs Rusia

Perang di Ukraina saat ini sejatinya tidak saja melibatkan dua negara bekas Uni Soviet. Ada intervensi pihak ketiga dalam konflik itu. Seperti disinggung sebelumnya, negara-negara Barat, terutama AS dan sekutu NATO-nya, telah mengambil posisi membeking Ukraina. Mereka menggelontorkan banyak uang dan persenjataan untuk menyokong Kiev melawan gempuran Moskow. Berbagai peralatan militer pun mereka kirim ke Ukraina, mulai dari barang-barang yang sudah usang hingga yang canggih seperti FIM-92 Stinger dari AS dan rudal Starstreak kiriman Inggris.

Sampai sejauh ini, krisis Ukraina tampaknya telah membuat negara-negara Barat semakin terkonsolidasi. Agresi Rusia mendorong mereka untuk bersatu. Karenanya, tidak heran jika sebagian analis militer menilai perang di Ukraina saat ini bukanlah antara Kiev melawan Moskow, melainkan Barat versus Rusia. Ukraina hanya menjadi arena pertempuran bagi NATO dan Rusia.

Jika ditelusuri lagi sejarahnya, NATO didirikan negara-negara Barat untuk melawan Uni Soviet dan membendung pengaruh komunisme secara global. Namun, Uni Soviet membuarkan diri pada akhir 1991. Sejak itu, Rusia mengambil peran sebagai representasi negara komunis tersebut di Dewan Keamanan PBB.

Agresi Rusia di Ukraina juga menyebabkan sedikit perubahan pada arsitektur keamanan di Eropa. Swedia dan Finlandia memutuskan untuk bergabung ke dalam NATO. Padahal, selama era Perang Dingin, dua negara Nordik itu selalu mengambil posisi netral. Keputusan mereka itu dilatarbelakangi oleh rasa terancam mereka atas tindakan Moskow menyerang Ukraina.

Sementara di lain pihak, Rusia pun terus memperkuat pengaruhnya di Belarusia—salah satu negara yang menadi penyangga antara negeri beruang merah dan Eropa Barat. Moskow pun memasok berbagai persenjataan canggih ke Minsk. Baru-baru ini, Rusia dilaporkan mengirimkan sistem pertahanan udara S-400 dan sistem rudal Iskander ke Belarusia. Lewat langkah tersebut, Moskow ingin meningkatkan efektivitas pertahanan udara bersama kedua negara. 

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
Internasional
2 jam lalu

Perang Lawan Iran Sebulan, AS Butuh Waktu Bertahun-tahun Isi Ulang Persenjataan 

Internasional
8 jam lalu

Posting Kode '8647', Mantan Bos FBI James Comey Didakwa Ancam Bunuh Trump

Internasional
10 jam lalu

Jerman Kecewa dengan AS-Israel, Perang Lawan Iran Berlarut-larut

Internasional
13 jam lalu

Trump: Iran di Ambang Runtuh, Minta Selat Hormuz Segera Dibuka

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal