Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan, negaranya berpotensi menyerang Gunung Pickaxe milik Iran. Dia juga meminta Teheran berhati-hati dan memperkirakan perang dapat berlangsung hingga melewati masa pemilu sela AS pada November mendatang.
Eskalasi terbaru terjadi setelah Iran mengeklaim menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz, pada Rabu, 9 September 2026, sebagai balasan atas serangan AS yang menenggelamkan lima kapal tanker minyak milik Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan pihaknya akan meningkatkan skala pembalasan jika serangan lanjutan kembali terjadi.
Arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sebelum perang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, tercatat masih jauh di bawah level normal sebelum konflik pecah. Tekanan terhadap pasokan energi global turut bertambah di kawasan Laut Merah, seiring milisi Houthi yang berafiliasi dengan Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi.
Meski ancaman gangguan pasokan yang lebih panjang dan parah di kawasan Teluk telah mengerek harga Brent melampaui 100 dolar AS, para analis menilai keberlanjutan tren kenaikan ini akan sangat bergantung pada permintaan dari China.
Analis ING dalam catatannya mengungkapkan, China sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, meningkatkan pembelian dalam beberapa pekan terakhir setelah sempat melemah selama berbulan-bulan, sehingga turut mengangkat pasar minyak mentah fisik. Jika tren ini terus berlanjut, dampak dari gangguan pasokan akan semakin terasa dan berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Sebaliknya, penurunan kembali impor China dapat menahan kenaikan harga minyak.