Fenomena ini hanya dapat dimanfaatkan apabila Matahari terlihat dengan jelas. Jika cuaca mendung atau hujan sehingga sinar Matahari tertutup awan, bayangan tidak akan terbentuk secara sempurna dan proses pengecekan arah kiblat menjadi tidak dapat dilakukan.
Rashdul Kiblat berbeda dengan gerhana Matahari. Pada Rashdul Kiblat, Matahari tetap bersinar normal dan hanya posisinya yang tepat berada di atas Ka'bah. Sementara itu, gerhana Matahari terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari sehingga cahaya Matahari tertutup sebagian atau seluruhnya.
Fenomena Rashdul Kiblat telah lama dimanfaatkan sebagai metode astronomi untuk memverifikasi arah kiblat karena memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, momen ini kerap dimanfaatkan oleh pengelola masjid, musala, maupun masyarakat untuk memastikan arah kiblat bangunan tetap sesuai dengan posisi Ka'bah.
Bagi masyarakat yang belum sempat memanfaatkan fenomena hari ini, Rashdul Kiblat masih akan kembali terjadi pada Kamis (16/7/2026) pada waktu yang hampir sama. Momen tersebut menjadi kesempatan kedua untuk melakukan pengecekan arah kiblat secara mandiri dengan memanfaatkan bayangan Matahari.