Keterlibatan para pejuang dari Chechnya dalam konflik di berbagai belahan dunia telah menimbulkan keprihatinan dan kontroversi di kalangan Barat selama bertahun-tahun. Mereka memiliki komitmen yang teguh untuk melawan dan menghancurkan Rusia.
Pada saat ini, terutama setelah pecahnya konflik antara Rusia dan Ukraina sejak 2014, sejumlah individu dari Chechnya telah ikut serta sebagai kekuatan tambahan bagi militer Ukraina dalam melawan Rusia. Partisipasi mereka memiliki dampak yang signifikan bukan hanya pada konflik langsung itu sendiri, tetapi juga pada wilayah yang lebih luas dan pada dunia secara keseluruhan.
Olivia Gibson, seorang analis intelijen dari London Politica, mencatat bahwa pejuang dari Chechnya telah terlibat dalam konflik langsung maupun proksi melawan Rusia selama waktu yang lama dan memiliki sejarah yang kompleks. Pada dekade 1990-an, bangsa Chechnya memperjuangkan kemerdekaannya dari Rusia—dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Chechnya I—yang berlangsung dari tahun 1994 hingga 1996. Selama konflik ini, para pejuang Chechnya di bawah komando pemimpin separatis Dzhokhar Dudayev, menggunakan taktik perang gerilya melawan militer Rusia. Meskipun perang berakhir dengan gencatan senjata, ketegangan di Chechnya tetap tinggi pada waktu itu.
Pada 1999, pecahlah Perang Chechnya II. Konflik ini semakin intens ketika pasukan Rusia menggunakan senjata berat untuk menghancurkan gerakan separatis. Para pejuang Chechnya menanggapi eskalasi tersebut dengan aksi bom bunuh diri, pembunuhan, dan kekerasan lainnya.
Pada musim gugur 1999, Akhmad Kadyrov (ayah dari Ramzan Kadyrov)–salah satu tokoh terkemuka dalam gerakan perlawanan Chechnya terhadap Rusia–memutuskan untuk menghentikan pemberontakan. Dia lantas menawarkan dukungannya kepada pasukan federal Rusia dalam Perang Chechnya Kedua.