Ilmuwan politik James Hughes berpendapat, keputusan Kadyrov untuk berubah haluan kala itu sebagian mungkin dimotivasi oleh ambisi pribadinya untuk menjadi penguasa Chechnya. Sementara sebagian lagi mungkin didorong oleh keprihatinannya akan kondisi penduduk di tanah airnya yang semakin putus asa, ditambah lagi ketakutan akan meluasnya pengaruh Wahabisme sektarian yang tumbuh subur selama pemberontakan.
Meskipun Perang Chechnya II secara resmi berakhir pada 2009, kekerasan dan ketidakstabilan terus berlanjut di wilayah tersebut. Para pejuang dari Chechnya juga berperan penting dalam konflik dan pemberontakan di tempat lain, seperti Suriah dan Irak. Meskipun motivasi mereka untuk terlibat dalam operasi militer global ini sangat kompleks, sering kali dapat dilacak kembali ke keinginan untuk membebaskan diri dari pengaruh imperialis Rusia, menyebarkan paham fundamentalisme Islam, dan mendapatkan otonomi untuk Republik Ichkeria (Chechnya).
Kini, tampuk kekuasaan Chechnya dilanjutkan oleh Ramzan Kadyrov, putra dari Akhmad Kadyrov. Saat perang Rusia-Ukraina pecah, Ramzan Kadyrov memang secara aktif terlibat dalam konflik itu. Dia mengirimkan pasukan Chechnya untuk berperang bersama Rusia melawan Ukraina.
Akan tetapi, ada pula sejumlah orang Chechnya yang berjuang bersama Ukraina di medan perang. Mereka yang mengambil sikap melawan Rusia itu tergabung dalam Batalion Sheikh Mansur. Di mata mereka, Kadyrov adalah seorang pengkhianat yang membelot pada saat berlangsungnya Perang Chechnya II.
“Sayangnya, Kadyrov adalah pengkhianat, dan tentu saja jika Anda bertanya kepada kami tentang hal itu, kami tidak akan pernah mengizinkan seseorang seperti Kadyrov untuk mewakili rakyat Chechnya,” kata Mansur.
“Kami adalah orang yang berpikiran terbuka, mencintai kebebasan, dan kami memberikan bantuan kepada siapa pun yang membutuhkan. Kami tidak akan pernah mengatakan bahwa kami adalah tentara atau budak siapa pun,” ucapnya.