Menlu Retno: Perbedaan Diselesaikan di Meja Perundingan bukan Medan Perang

Anton Suhartono
Menlu Retno Marsudi dalam pidato di Sidang Majelis Umum PBB menegaskan perbedaan tak boleh diselesaikan di medan perang (Foto: AP)

NEW YORK, iNews.id - Indonesia menekankan pentingnya solidaritas global daan tanggung jawab kolektif dalam menanganai permasalahan di dunia saat ini. Dunia saat ini berada di persimpangan jalan.

Seruan itu merupakan pesan inti Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 yang disampaikan kembali Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi di Sidang Majelis Umum (SMU) PBB di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Sabtu waktu setempat.

Melalui 10 Prinsip Bandung, lanjut Retno, Indonesia menyerukan kepada seluruh negara untuk menghormati Hak Asasi Manusia (HAM), Piagam PBB, kedaulatan dan integritas wilayah, kesetaraan, menyelesaikan konflik secara damai, serta mendorong peningkatan kerja sama dan kepentingan bersama.

“Bagi Indonesia, kepemimpinan global tidak hanya melulu tentang kekuasaan atau pengaruh untuk mendikte orang lain. Kepemimpinan global adalah tentang mendengarkan yang lain, menjadi bridge builder, menghormati hukum internasional secara konsisten, serta menghormati semua negara secara setara,” kata Retno, dalam pernyataannya.

Retno menegaskan, seperti terjadi pada 1955, situasi global saat ini tidak menentu. Kepercayaan dan solidaritas terus tergerus, rivalitas antar-negara terus menajam. Kondisi saat ini bahkan sampai pada menghalangi terpenuhinya target SDGs negara-negara berkembang.

"Apakah kita benar-benar memiliki komitmen untuk membangun kepercayaan dan berupaya mencapai SDGs? Apakah kehadiran kita di SMU PBB ini benar-benar menunjukkan kesiapan kita untuk bersatu dan menunaikan tanggung jawab bersama? Apakah kita benar-benar mau melakukan apa yang kita sampaikan (walk the talk)?" tuturnya.

Indonesia, lanjut Retno, menawarkan tiga strategi untuk membangun kembali kepercayaan dunia serta menghidupkan kembali solidaritas global. 

Strategi pertama, kata Retno, Indonesia mendesak kepemimpinan kolektif global.

“Nasib dunia tidak boleh ditentukan oleh segelintir pihak/negara," ujarnya. 

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
Internasional
22 jam lalu

Dari Sekutu Jadi Ancaman, Kisah Pahit Imigran Afghanistan yang Berbalik Menyerang AS

Internasional
11 jam lalu

Imigran Afghan Pelaku Penembakan Tentara Garda Nasional AS Mantan Pekerja CIA, Apa Motifnya? 

Internasional
1 hari lalu

1 Tentara Garda Nasional AS yang Ditembak Imigran Afghanistan Dekat Gedung Putih Meninggal

Internasional
2 hari lalu

Nah, Imigran Afghan yang Tembak 2 Tentara Garda Nasional Pernah Tugas di Pasukan Khusus AS

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal