HIV menyerang sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko seseorang tertular TB. Disebutkan, tahun lalu terdapat 59 bayi yang tertular HIV dari ibu mereka.
Lima tahun lalu, diperkirakan 1 dari 167 penduduk Fiji hidup dengan HIV. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Fiji mengalami lonjakan penggunaan narkoba suntik seiring posisi kepulauan tersebut yang menjadi titik transit penting bagi perdagangan narkotika dari Amerika Serikat menuju pasar yang menguntungkan di Australia, Selandia Baru, dan sebagian wilayah Asia.
Faktor tersebut, ditambah dengan penularan seksual yang terus terjadi akibat rendahnya penggunaan kondom dan stigma sosial, membuat wabah ini sulit untuk ditangani.
"Hal yang paling mengkhawatirkan saya adalah kecepatan penyebaran epidemi ini dan banyaknya orang yang tak sadar bahwa mereka mungkin hidup dengan HIV," kata Renata Ram, penasihat Fiji untuk Program Bersama PBB tentang HIV/AIDS (UNAIDS), seperti dikutip dari CNN.
Dia menambahkan, hanya sekitar 39 persen warga Fiji yang terpapar HIV mengetahui status mereka. Kurang dari seperempat dari angka itu, 22 persen, yang menjalani pengobatan..
Jika tidak ditangani, virus ini dapat berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), yang membuat tubuh sangat rentan terhadap penyakit mematikan dan kanker.
Menurut data statistik kesehatan nasional, Fiji mencatat 117 kematian terkait HIV pada 2025, melonjak drastis dari 25 kasus pada 2021.