Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Paus Fransiskus (kiri), dan Patriark Gereja Ortodoks Rusia, Kirill (kanan). (Foto: Reuters)
Ahmad Islamy Jamil

VATIKAN, iNews.id Paus Fransiskus telah membatalkan rencana pertemuannya dengan Patriark Ortodoks Rusia, Kirill, di Yerusalem pada Juni nanti. Pasalnya, sang patriark mendukung langkah Presiden Rusia Vladimir Putin melancarkan perang di Ukraina.

Pada 11 April lalu, Reuters melaporkan bahwa Vatikan sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang kunjungan paus ke Lebanon pada 12-13 Juni sehari. Dengan begitu, dia dapat bertemu Kirill pada 14 Juni di Yerusalem.

Dalam wawancara dengan media Argentina, La Nacion, Paus mengaku menyesalkan rencana pertemuan itu harus “ditangguhkan”. Sebab, para diplomat Vatikan menilai pertemuan semacam itu dapat menimbulkan banyak “kebingungan” pada situasi saat ini.

Jika seandainya jadi terwujud, perjumpaan Fransiskus dan Krill di Yerusalem semestinya bakal menjadi pertemuan kedua mereka. Adapun pertemuan pertama mereka berlangsung di Kuba pada 2016. 

Momentum bersejarah di Kuba kala itu sekaligus menjadi pertemuan yang pertama antara seorang paus dan seorang pemimpin Gereja Ortodoks Rusia sejak peristiwa Skisma Besar, hampir 10 abad silam.  Peristiwa itu memisahkan agama Kristen menjadi cabang-cabang Timur dan Barat pada 1054.

Kirill, yang kini berusia 75 tahun, telah memberikan restu penuh atas invasi Rusia ke Ukraina. Sikap sang patriark itu menyebabkan terbelahnya para pengikut Gereja Ortodoks di seluruh dunia, memicu pemberontakan internal—yang menurut para teolog dan akademisi belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara, di lain pihak, Fransiskus yang sekarang berumur 85 tahun, beberapa kali secara implisit mengkritik Rusia dan Putin atas perang tersebut. Pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu juga menggunakan istilah-istilah seperti “agresi” dan “invasi yang tidak dapat dibenarkan” untuk mengecam operasi militer Moskow di Ukraina.

Rusia memulai operasi militer khusus di Ukraina pada 24 Februari. Putin menganggap tindakan militernya itu bertujuan untuk mendemiliterisasi dan mendenazifikasi negeri tetangganya tersebut.


Editor : Ahmad Islamy Jamil

BERITA TERKAIT