Pemerintah, kata Ismail, menyadari kondisi industri pariwisata yang terdampak parah akibat pandemi Covid-19, namun di sisi lain tidak ingin masuknya turis asing menyebabkan lonjakan kasus.
"Saya punya teman di Kementerian Pariwisata, teman-teman yang mengatakan mereka tidak bisa bertahan hidup, sopir travel yang bergantung pada pendapatan dari membawa pelancong. Sekarang, tidak ada (turis), mereka tidak bisa bertahan hidup ,” kata Ismail.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah masih memberikan bantuan subsidi upah kepada pekerja, sebesar 600 ringgit.
"Ini dimaksudkan untuk membantu, tapi kita tidak tahu sampai berapa lama lagi mereka bisa bertahan. Itu sebabnya kita akhirnya bisa membuka kembali perbatasan, tapi untuk melakukan itu kita harus mendapatkan saran dari Kementerian Kesehatan," tuturnya.