BEIRUT, iNews.id - Ketegangan politik di Lebanon kembali memanas setelah Pemimpin Hizbullah Naim Qassem melontarkan tuduhan keras kepada para pejabat Lebanon.
Dalam pidato peringatan kematian komandan senior Hizbullah, Haitham Ali Tabatabai, Qassem menyebut sejumlah pejabat pemerintah sebagai “budak Israel”.
Pernyataan tersebut memicu pertanyaan, kenapa Qassem mengeluarkan tuduhan setajam itu?
1. Berawal dari Pembunuhan Haitham Ali Tabatabai
Israel pekan lalu melancarkan serangan udara yang menewaskan Ali Tabatabai di sebuah apartemen di pinggiran Beirut selatan. Serangan yang terjadi Minggu (23/11/2025) itu juga menewaskan empat orang lain dan melukai 25 warga.
Qassem menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan yang disengaja dan menegaskan Hizbullah berhak membalas kapan pun.
2. Gencatan Senjata yang Tak Dijalankan Israel
Menurut Qassem, serangan Israel itu semakin membuktikan bahwa perjanjian gencatan senjata Israel-Hizbullah yang berlaku sejak 27 November 2024 telah memasuki fase baru.
Dalam kesepakatan tersebut, Israel seharusnya menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan sejak Januari 2025. Namun kenyataannya, Israel masih mempertahankan kehadiran militer di lima pos perbatasan.
Situasi ini dipandang Hizbullah sebagai bentuk pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian.
3. Qassem Tuduh Pejabat Lebanon Ikuti Perintah AS
Kemudian, Qassem menuding pemerintah Lebanon gagal mengambil sikap tegas terhadap Israel. Dia bahkan menyebut sejumlah pejabat sebagai “budak Israel”.
Menurutnya, pejabat-pejabat tersebut mengikuti perintah Amerika Serikat, berupaya melucuti senjata Hizbullah, dan dianggap lebih tunduk kepada kepentingan asing ketimbang melindungi Lebanon dari ancaman Israel.
Tuduhan ini menggambarkan friksi internal Lebanon antara kubu pro-Hizbullah dan kelompok yang ingin memperkuat kontrol negara terhadap senjata non-negara.
4. Hizbullah Menolak Tekanan Politik
Qassem menegaskan Hizbullah hanya akan berdialog mengenai strategi pertahanan nasional tanpa tekanan dan bukan untuk mencapai kesepakatan baru yang dapat melemahkan kelompok tersebut.
“Hizbullah siap membahas strategi pertahanan, tapi tidak di bawah tekanan,” ujarnya.