Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, China Ogah Diseret-seret

Anton Suhartono
Berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir AS-Rusia, New START, memicu kekhawatiran dunia akan potensi perlombaan senjata baru (Foto: AP)

WASHINGTON, iNews.id - Berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir Amerika Serikat (AS) dan Rusia, New START, memicu kekhawatiran dunia akan potensi perlombaan senjata baru. Di tengah situasi tersebut, China dengan tegas menolak untuk dilibatkan dalam perjanjian nuklir baru yang diusulkan Presiden AS Donald Trump.

Perjanjian New START resmi berakhir pada Rabu (4/2/2026), menandai berakhirnya satu-satunya kesepakatan utama yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir dua kekuatan terbesar dunia. Presiden Trump pun menyerukan perlunya perjanjian nuklir baru yang lebih modern dan tahan lama, namun dengan satu syarat, melibatkan China.

Trump menilai China mengalami kemajuan pesat dalam pengembangan senjata nuklir sehingga perlu dimasukkan dalam kerangka pengendalian global. Namun usulan tersebut langsung ditolak Beijing.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China menegaskan, kemampuan nuklir negaranya berada pada skala yang sama sekali berbeda dengan AS dan Rusia. 

Juru Bicara Kemlu China Lin Jian mengatakan, negaranya tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi perlucutan senjata nuklir saat ini.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
6 jam lalu

Bela Iran, China Kecam Perang Ekonomi AS: Tak Menyelesaikan Masalah

7 jam lalu

Trump Sebut Iran Sekarat: Tak Punya Uang untuk Bayar Gaji Tentara

10 jam lalu

Berburu Hewan yang Dilindungi di Papua, Pasutri asal China Diusir dari Indonesia

10 jam lalu

Trump: Jika AS Dipimpin Presiden Cerdas, Kim Jong Un Akan Berlaku Baik

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal