YEREVAN, iNews.id – Perdana Menteri ArmeniaNikol Pashinyan mengundurkan diri pada Minggu (25/4/2021). Pengunduran dirinya berlangsung kurang dari dua bulan menjelang pemilihan umum (pemilu) di negara itu pada 20 Juni mendatang.
Reuters melansir, Pashinyan merebut kekuasaan dalam protes prodemokrasi di Armenia pada 2018. Namun, selama beberapa bulan belakangan, dia berada di bawah tekanan untuk mengundurkan diri. Desakan itu muncul sejak etnik Armenia menelan kekalahan hingga kehilangan wilayah dalam pertempuran di Nagorno-Karabakh, wilayah milik negara tetangga Azerbaijan, tahun lalu.
Melalui laman Facebook, Pashinyan mengatakan, dia mengembalikan kekuasaan yang dia terima dari rakyat kepada rakyat. Selanjutnya, rakyat Armenia dapat memutuskan masa depan pemerintah melalui pemilu yang bebas dan adil.
Pengunduran dirinya itu terjadi dua hari setelah Presiden AS Joe Biden menyatakan pembantaian orang-orang Armenia di wilayah Kesultanan Utsmaniyah pada 1915 sebagai genosida. Tindakan Biden itu mendapat sambutan baik dari orang-orang Armenia di seluruh dunia, tapi dikutuk keras oleh Turki.
Dalam sebuah surat bertanggal Sabtu (24/4/2021), Pashinyan mengatakan kepada Biden bahwa keputusan bersejarah presiden AS itu adalah perkara keamanan bagi Armenia, menyusul konflik Nagorno-Karabakh. Dalam konflik itu, Turki diketahui mendukung Azerbaijan.