WASHINGTON, iNews.id - Politisi Muslimah Amerika Serikat (AS) Ilhan Omar menyebut Presiden Donald Trump dan Partai Republik ketakutan menghadapi pemilu paruh waktu pada 3 November mendatang. Dia menilai ancaman deportasi hingga hukuman penjara terhadap dirinya merupakan upaya intimidasi menjelang pemilu yang bisa mengubah peta kekuasaan di Kongres AS.
Anggota DPR AS dari Partai Demokrat itu menegaskan tidak akan mundur menghadapi tekanan pemerintahan Trump. Omar bahkan bertekad meningkatkan aktivitas kampanyenya untuk membantu Partai Demokrat merebut mayoritas kursi di DPR dan Senat.
"Kami tidak akan bisa diintimidasi. Kami tidak akan bisa dibungkam. Kami tidak akan takut," kata Omar melalui pesan video, seperti dikutip dari Anadolu, Selasa (27/10/2026).
Omar, yang mewakili daerah pemilihan di Negara Bagian Minnesota, menilai langkah pemerintahan Trump terhadap dirinya menunjukkan kekhawatiran Partai Republik kehilangan dominasi di Kongres. Menurut dia, kebijakan pemerintahan Trump yang tidak populer, termasuk terkait perang melawan Iran dan imigrasi, dapat memengaruhi hasil pemilu.
Dia juga menyebut dukungan publik yang diterimanya sebagai momentum untuk melawan tekanan pemerintahan Trump. Omar berjanji akan lebih aktif berkampanye hingga hari pemungutan suara pada 3 November.