Selain berupaya membantu Demokrat merebut mayoritas kursi di kedua kamar Kongres, Omar ingin memastikan pemerintahan Trump dimintai pertanggungjawaban atas kebijakan dan tindakannya.
Ancaman terhadap Omar menguat setelah Trump pada Selasa lalu mengisyaratkan bahwa politikus keturunan Somalia tersebut dapat menghadapi hukuman penjara, bukan sekadar deportasi, terkait penyelidikan federal atas proses keimigrasiannya.
Penyelidikan itu berkaitan dengan dugaan pernyataan palsu dalam dokumen pemerintah dan kemungkinan konspirasi. Agen federal bahkan telah menggeledah kediaman Omar dan menyita sejumlah barang, termasuk laptop, ponsel, buku catatan, serta paspor.
Penyidik tengah memeriksa dugaan ketidakakuratan catatan usia yang berkaitan dengan proses Omar memperoleh kewarganegaraan AS pada 2000. Pemeriksaan tersebut juga mencakup kemungkinan keterlibatan mendiang ayahnya dalam pemberian informasi usia yang tidak akurat.
Omar membantah melakukan pelanggaran. Dia menegaskan tiba di AS pada usia 12 tahun pada 1995 dan memperoleh kewarganegaraan ketika berusia 17 tahun.