Enam bulan kemudian ada berita dari pengadilan, Srikanth telah memenangkan kasusnya. Pengadilan telah memutuskan siswa tunanetra bisa belajar sains dan matematika di semua sekolah negeri di Andhra Pradesh.
"Saya sangat gembira. Saya mendapat kesempatan pertama untuk membuktikan kepada dunia bahwa saya bisa melakukannya dan generasi muda tidak perlu khawatir tentang mengajukan kasus dan berjuang melalui pengadilan," katanya.
Srikanth segera kembali ke sekolah negeri dan belajar matematika dan sains. Dia meraih nilai rata-rata 98 persen dalam ujiannya. Dia berencana mendaftar ke perguruan tinggi teknik bergengsi India yang dikenal sebagai IIT (Institut Teknologi India).
Persaingannya ketat dan para siswa sering ikut pelatihan intensif sebelum ujian masuk. Sayangnya, tidak ada sekolah pelatihan yang mau menerima Srikanth.
"Saya diberitahu oleh lembaga pelatihan terkemuka bahwa beban kursusnya akan seperti hujan lebat pada pohon kecil," katanya, saat menjelaskan bahwa mereka menganggap dia tidak akan memenuhi standar akademik.
"Tapi saya tidak menyesal. Jika IIT tidak menginginkan saya, saya juga tidak menginginkan IIT," kata Srikanth.
Dia lalu mendaftar ke sejumlah universitas di Amerika Serikat dan menerima lima tawaran. Dia memilih MIT di Cambridge, Massachusetts, di mana dia menjadi siswa tunanetra internasional pertama.
Dia mulai kuliah pada tahun 2009. Dia pun merasakan pengalaman yang campur aduk.
"Dingin yang ekstrem adalah kejutan pertama karena saya tidak terbiasa dengan cuaca dingin seperti itu. Makanannya berbau dan rasanya berbeda. Yang saya makan selama bulan pertama hanyalah kentang goreng dan ayam goreng," katanya.
Namun setelah itu dia mulai beradaptasi.