Profil Srikanth Bolla, Tunanetra India yang Kuliah di AS dan Kini Jadi CEO Perusahaan
Sekolah Srikanth dikelola oleh Dewan Pendidikan Negara Bagian Andhra Pradesh. Dia tidak diizinkan untuk mengajar sains dan matematika kepada siswa senior yang buta karena dianggap terlalu menantang dengan elemen visualnya, seperti diagram dan grafik.
Maka, mereka hanya boleh belajar seni, bahasa, sastra, dan ilmu sosial.
Mereka berdua lalu pergi ke Dewan Pendidikan Menengah di Andhra Pradesh untuk mengajukan permohonan. Tetapi mereka diberi tahu bahwa tidak ada yang bisa dilakukan.
Pantang menyerah, dia lantas menggugat pemerintah suatu negara bagian di India untuk mencabut larangan itu. Dia mendapat seorang pengacara dan dengan dukungan dari tim manajemen sekolah, dia mengajukan permohonan ke Pengadilan Tinggi Andhra Pradesh dengan meminta perubahan atas undang-undang pendidikan yang membolehkan siswa tunanetra belajar matematika dan sains.
"Sang pengacara memperjuangkannya atas nama kami," kata Srikanth, jadi dia tidak perlu hadir di sidang pengadilan.
Setelah permohonannya mendapat perhatian, Srikanth mendengar desas-desus bahwa sebuah sekolah umum di Hyderabad, Chinmaya Vidyalaya yang beroperasi di bawah badan pendidikan yang berbeda menawarkan sains dan matematika kepada siswa tunanetra.
Sekolah itu menawarkan tempat untuknya bila dia tertarik. Srikanth pun tidak menyia-nyiakan tawaran itu.
Dia merupakan satu-satunya siswa tunanetra di kelasnya. Tetapi dia merasa mereka menyambutnya dengan tangan terbuka.
"Guru kelas saya sangat ramah. Dia melakukan segalanya untuk membantu saya. Dia sampai belajar cara menggambar diagram taktil," katanya.
Diagram taktil dapat, misalnya, dibuat menggunakan film tipis di atas tikar karet. Ketika gambar dibuat di atas nya dengan pensil, maka muncul garis terangkat yang dapat dia rasakan.