“Rusia bukan peserta perang ini. Ini bukan perang kami,” ujarnya.
Ketegangan di Selat Hormuz bermula dari serangan Israel-AS pada 28 Februari. Sebagai respons, Iran mengambil langkah dengan membatasi akses bagi kapal-kapal tertentu. Hanya negara yang dianggap bersahabat diizinkan melintas. Namun dalam perkembangannya, Teheran mulai melonggarkan kebijakan dengan memperbolehkan kapal dari negara lain lewat, asalkan membayar tarif tertentu.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru memerintahkan blokade total terhadap Selat Hormuz setelah gagalnya perundingan dengan Iran. Kebijakan ini bertujuan menekan ekonomi Iran dengan menghentikan lalu lintas kapal keluar-masuk.
Namun fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda. Sejumlah kapal tanker dan kapal dagang dilaporkan tetap bisa melintas, sehingga memunculkan tanda tanya besar mengenai efektivitas maupun realitas dari blokade tersebut.