JAKARTA, iNews.id – Sejak pertama kali digelar pada 29 Juli 1951, tak sekalipun kontes kecantikan internasional, Miss World, keluar dari London, Inggris. Begitu terus hingga bertahan tiga dekade lebih. Baru pada penyelenggaraan ke-39 (1989) terobosan besar terjadi. Hong Kong ditunjuk menjadi tuan rumah. Dari situ Miss World pun melanglang buana ke banyak negara.
Tercatat Amerika Serikat, Afrika Selatan (Afsel), China, India, Seychelles, Polandia dan Indonesia pernah merasakan kemegahan serta euforia sebagai penyelenggara event prestisius ini. Kendati telah melebarkan sayap, baru China satu-satunya negara di luar Inggris yang paling banyak menyelenggarakan Miss World.
Dengan penunjukan kembali Kota Sanya di Provinsi Hainan sebagai tempat final Miss World 2017, sudah delapan kali Negeri Tirai Bambu menjadi host acara ini, sekali lebih banyak dari Afsel. Dari jumlah itu, tujuh penyelenggaraan berlangsung di Sanya. Hanya sekali di kota lain, yakni Dongsheng Fitness Center Stadium, Ordos City, Inner Mongolia.
Kembali dipilihnya China sebagai tuan rumah sedikit banyak mengusik rasa penasaran khalayak. Mengapa China? Persisnya, kenapa Sanya lagi?
Arah Kebijakan Beijing
Selama bertahun-tahun China menentang kontes kecantikan. Pada pertengahan abad lampau, Mao Zedong menyebut acara ini tak lebih dari omong kosong kaum borjuis. Pendiri Republik Rakyat China itu bahkan menggambarkan para peserta kontes itu sebagai orang yang "kurang menghormati diri sendiri".