Tapi semua sudah berubah. Seiring kebijakan Beijing untuk membuka diri,modernitas dan globalisasi pun merambah Negeri Naga. Mahasiswa China sekarang berbondong-bondong, bahkan mengantre, ikut kontes kecantikan yang diselenggarakan stasiun televisi dengan hadiah uang hingga 1 juta yuan.
Menurut Paul French dari Access Asia, perusahaan intelijen yang mengumpulkan data tentang tren di industri kosmetik, kontes kecantikan merupakan gejala tentang kegemaran kecantikan sekarang ini.
"Acara Miss World merupakan simbol 'kesombongan' baru dalam budaya China," kata Paul dikutip Irish Time.Tidak hanya sekadar tampil cantik di televisi. Dalam pandangannya, perempuan muda China melihat kontes kecantikan sebagai springboards, semacam papan loncatan karier di bisnis pertunjukan atau mode.
Pada 2003, untuk pertama kali Sanya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Miss World. Tak tanggung-tanggung, kota paling selatan China ini menginvestasikan dana hingga USD31 juta untuk event tersebut.
China Daily melaporkan, anggaran itu termasuk untuk membenahi infstruktur kota, seperti jalan raya, jalan tol, dan jembatan. Selain itu membayar lisensi penyelenggaraan sebesar USD4,8 juta. Jumlah tersebut belum termasuk uang pribadi USD12 juta untuk membangun Beauty Crown Cultural Center. Keputusan itu bukan tanpa alasan.Dengan menggelar Miss World China ingin menunjukkan dirinya sebagai pemain global.