JAKARTA, iNews.id - Amerika Serikat (AS) mengerahkan drone LUCAS (Low-Cost Unmanned Combat Aerial System) sebagai senjata utama dalam skuadron baru Scorpion Strike, unit yang dibentuk khusus untuk menghadapi ancaman drone kamikaze Shahed 136 buatan Iran di Timur Tengah. Drone ini menjadi jawaban Washington terhadap meningkatnya serangan Shahed yang terbukti mampu menembus sistem pertahanan udara konvensional AS.
Menariknya, LUCAS bukan drone biasa. Dia dirancang melalui proses rekayasa balik setelah Pentagon memperoleh satu unit Shahed Iran, membedahnya, dan kemudian bekerja sama dengan sejumlah perusahaan Amerika untuk menciptakan tandingan yang serupa, namun dengan tujuan pencegatan.
Berikut spesifikasi dan kemampuan utama drone LUCAS yang kini menjadi garda terdepan pertahanan AS di Timur Tengah.
1. Panjang Sekitar 3 Meter, Desain Mirip Shahed
Pentagon secara terbuka menyebut LUCAS dibuat berdasarkan rekayasa balik drone Shahed-136. Hasilnya, bentuk dan dimensinya dibuat hampir setara:
Desain ini dipilih bukan untuk meniru, tapi untuk menandingi efektivitas Shahed yang selama ini menjadi ancaman besar terhadap fasilitas dan pangkalan militer AS.
2. Drone Berbiaya Murah: Hanya Rp584 Juta per Unit
Salah satu keunggulan LUCAS adalah harganya yang sangat murah untuk standar militer AS yakni 35.000 dolar AS atau sekitar Rp584 juta. Dengan harga itu LUCAS termasuk sebagai senjata pencegat paling murah dalam inventaris AS.
Senjata ini dibuat agar bisa diproduksi massal dan dikerahkan dalam jumlah besar.
Dengan biaya semurah ini, AS juga bisa menghadapi ancaman drone Shahed Iran, sebanding dari sisi ekonomi dan taktik.
3. Jangkauan Luas dan Operasi Otonom
Centcom tak memberikan data spesifik mengenai LUCAS, melainkah hanya menyebut beberapa kemampuan umumnya, yakni memiliki jangkauan jauh dan kemampuan terbang secara otonom (autonomous flight).
Kedua fitur ini penting karena Shahed sendiri merupakan drone kamikaze jarak jauh yang mampu melintasi wilayah luas sebelum menghantam target.