Sudan Kacau akibat Perang Saudara, Naik Angkutan Umum Bayar Pakai Sabun

Anton Suhartono
Sistem perbankan Sudan runtuh dan nilai mata uang kolaps, transaksi keuangan konvensional praktis tidak berfungsi (Foto: AP)

Warga yang ingin bepergian membawa barang-barang kecil seperti sabun mandi, gula, atau beberapa liter solar untuk membayar perjalanan singkat. Sistem ini telah menjadi norma baru di sejumlah wilayah yang terputus aksesnya dari perbankan.

Bengkel dan Pedagang pun Terima Pembayaran dalam Bentuk Barang

Tak hanya transportasi, para tukang bengkel hingga pedagang kecil di pasar lokal menerima pembayaran berupa makanan atau barang rumah tangga. Jagung, tepung, beras, dan bahkan peralatan dapur menjadi "alat tukar" yang lebih bernilai dibanding uang tunai.

Dengan bank tutup dan uang tak ada artinya, warga tak punya pilihan lain selain mengikuti pola ekonomi pra-modern ini agar tetap bisa bertahan hidup.

Uang Tidak Lagi Dipakai, 9 Bulan Tanpa Satu Lembar pun

Ali, seorang pegawai negeri dari Dilling yang kini dikepung RSF, mengaku sudah hampir setahun tidak melihat uang kertas.

“Saya tidak memegang uang kertas selama lebih dari 9 bulan,” ujarnya.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
3 hari lalu

Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah Lagi, Sentuh Rp18.083 per Dolar AS

4 hari lalu

Komisi XI DPR Harap Sosok Pengganti Perry Warjiyo Mampu Jaga Independensi Bank Indonesia

4 hari lalu

Mundurnya Perry Warjiyo dan Tiga Risiko yang Tidak Boleh Diremehkan

4 hari lalu

Destry Damayanti Pastikan Tugas Bank Indonesia Tetap Berjalan Normal usai Perry Warjiyo Mundur

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal