Sudan Kacau akibat Perang Saudara, Naik Angkutan Umum Bayar Pakai Sabun

Anton Suhartono
Sistem perbankan Sudan runtuh dan nilai mata uang kolaps, transaksi keuangan konvensional praktis tidak berfungsi (Foto: AP)

Warga yang ingin bepergian membawa barang-barang kecil seperti sabun mandi, gula, atau beberapa liter solar untuk membayar perjalanan singkat. Sistem ini telah menjadi norma baru di sejumlah wilayah yang terputus aksesnya dari perbankan.

Bengkel dan Pedagang pun Terima Pembayaran dalam Bentuk Barang

Tak hanya transportasi, para tukang bengkel hingga pedagang kecil di pasar lokal menerima pembayaran berupa makanan atau barang rumah tangga. Jagung, tepung, beras, dan bahkan peralatan dapur menjadi "alat tukar" yang lebih bernilai dibanding uang tunai.

Dengan bank tutup dan uang tak ada artinya, warga tak punya pilihan lain selain mengikuti pola ekonomi pra-modern ini agar tetap bisa bertahan hidup.

Uang Tidak Lagi Dipakai, 9 Bulan Tanpa Satu Lembar pun

Ali, seorang pegawai negeri dari Dilling yang kini dikepung RSF, mengaku sudah hampir setahun tidak melihat uang kertas.

“Saya tidak memegang uang kertas selama lebih dari 9 bulan,” ujarnya.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
10 hari lalu

Tambang Emas Runtuh, 67 Orang Tewas

24 hari lalu

Resmi Pimpin BI, Destry Tekankan Kebijakan Bank Sentral Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

25 hari lalu

Resmi Pimpin BI, Destry Damayanti Ungkap Strategi 3I+S Hadapi Gejolak Ekonomi Global

2 bulan lalu

Destry Damayanti Diusulkan Jadi Gubernur BI, Purbaya: Kerja Sama Sudah Terjalin Baik

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal