JAKARTA, iNews.id – Target invasi Rusia untuk demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina sampai hari ini tampaknya masih jauh panggang dari api. Sudah lebih dari sebulan berlalu, operasi militer Rusia di Ukraina belum lagi menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat.
Rusia menyerang Ukraina sejak 24 Februari 2022. Hingga saat ini, agresi militer itu masih berlangsung. Selama operasi tersebut, Rusia mengeklaim telah menghancurkan berbagai objek militer Ukraina dengan rudal jelajah.
Dalam pidatonya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangan itu sebagai operasi militer khusus yang ditujukkan untuk “demiliterisasi” serta “denazifikasi” Ukraina. Kedua istilah itu mempunyai target yang berbeda, namun saling berkaitan.
Demiliterisasi memiliki motif geopolitik yang berkaitan dengan perluasan NATO ke timur. Untuk diketahui, Rusia sejak awal menilai eksistensi NATO sudah tidak relevan. Hal ini seiring dengan berakhirnya Perang Dingin.
Rusia pun telah mengambil langkah dengan menjalin kemitraan dengan NATO. Namun sayang, upaya yang dilakukan negeri beruang merah itu acap kali diabaikan oleh Barat. Karenanya, misi demiliterisasi oleh Rusia ditujukan guna melumpuhkan kekuatan rezim yang berkuasa di Kiev, yang telah menimbulkan kesengsaraan terhadap rakyat Ukraina Timur.
Selain demiliterisasi, Rusia juga membawa misi dezanifikasi. Operasi tersebut menargetkan Ukraina sebagai sasaran utama dan serta ke dalam negeri Rusia sendiri. Hal ini dilakukan Rusia untuk penguatan nasionalisme seluruh warga negara Rusia.