Di tengah tekanan anggaran, militer Israel juga menghadapi persoalan kekurangan personel dan peralatan tempur. Stasiun radio militer Israel, Army Radio, melaporkan sejumlah brigade dan batalion pasukan cadangan kini beroperasi tidak dalam kekuatan penuh serta kekurangan tank untuk menjalankan operasi.
Dalam laporan berjudul "Peringatan Angkatan Bersenjata tentang Keruntuhan Pasukan Cadangan", Army Radio menyebut sebuah brigade lapis baja yang baru dikerahkan ke medan tempur utama di Lebanon ternyata tidak memiliki kekuatan penuh.
"Ini bukan brigade penuh. Mereka jauh dari itu," bunyi laporan yang dikutip pada Jumat (24/7/2026).
Laporan tersebut mengungkap para komandan dan prajurit memberikan gambaran yang berbeda dengan informasi yang disampaikan para pengambil keputusan. Seorang komandan pasukan cadangan mengatakan masyarakat mendengar bahwa brigade penuh telah dikirim ke Lebanon, padahal kenyataannya formasi yang diterjunkan jauh lebih kecil.
"Jumlah tentara, tank, dan kendaraan jauh lebih rendah," ujarnya.
Army Radio juga melaporkan militer Israel tidak lagi memiliki cukup tank siap tempur. Banyak kendaraan lapis baja rusak akibat pertempuran dan dinonaktifkan sehingga sejumlah kompi harus beroperasi dengan jumlah tank di bawah kebutuhan.
Sejak Oktober 2023, Israel terlibat operasi militer di berbagai wilayah, termasuk Jalur Gaza, Lebanon, Suriah, dan Tepi Barat. Operasi di banyak front tersebut disebut semakin membebani kebutuhan personel, perlengkapan militer, serta anggaran pertahanan.
Sebelumnya, harian Yedioth Ahronoth juga melaporkan militer mulai mengurangi pemanggilan pasukan cadangan secara signifikan. Langkah itu dilakukan dengan alasan aktivitas tempur di berbagai front mulai berkurang, di tengah tekanan yang terus membayangi anggaran pertahanan Israel.