Masyarakat Kurdi termasuk salah satu kelompok etnik besar di Turki. Sayangnya, nasib mereka sangat terpinggirkan dan bahkan banyak di antara mereka yang tidak memiliki kewarganegaraan di negeri itu.
Meskipun PKK juga dilabeli AS dan Uni Eropa sebagai kelompok teroris, Finlandia dan Swedia tetap enggan mengekstradisi anggota kelompok itu ke Turki. Helsinki dan Stockholm berdalih, mereka tak mau menyerahkan para pemberontak itu ke Ankara karena masalah hak asasi manusia.
Erdogan pun menanggapinya dengan menyebut Swedia sebagai “tempat penetasan” terorisme. Pemimpin Turki itu menilai Stockholm dan Helsinki tidak memiliki sikap yang jelas dan terbuka terhadap organisasi teroris. “Bagaimana kami (Turki) bisa mempercayai mereka (Swedia dan Finlandia)?” kata Erdogan saat konferensi pers di Ankara, Senin (16/5/2022) lalu.
Kemarahan Erdogan kepada Finlandia dan Swedia juga diburuk oleh tindakan kedua negara Nordik itu menampung para pengikut ulama karismatik Turki, Fethullah Gulen. Erdogan menuduh para Gulenis melakukan kudeta yang gagal terhadap pemerintahnya pada 2016.
Tidak cukup sampai di situ, Finlandia dan Swedia juga mengutuk serangan Turki tahun 2019 ke Suriah. Dalam operasi itu, pasukan Turki menargetkan Rojava—daerah kantong kaum sosialis, feminis, dan pejuang otonomi Kurdi di dekat perbatasan Turki. Yang memperumit masalah, orang-orang Suriah di Rojava—terlepas dari hubungan mereka dengan PKK—adalah sekutu pasukan Amerika.