Program tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap tenaga pendidik yang berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan keagamaan di Indonesia.
Namun, capaian dari sisi jumlah penerima dan anggaran perlu dilihat bersama dengan dampaknya terhadap kesejahteraan guru serta kualitas pembelajaran. Pemerataan penyaluran dan peningkatan mutu pendidikan tetap menjadi aspek penting dalam keberlanjutan program.
Kemenag juga mencatat program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau 6.335.217 siswa dan santri. Sementara itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjangkau 3.209.783 siswa dan santri.
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i mengatakan, pemenuhan gizi dan pemeriksaan kesehatan merupakan bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam belajar.
“Anak-anak yang sehat dan tercukupi kebutuhan gizinya tentu memiliki kesempatan yang lebih baik untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensinya,” ujarnya.
Menurut Syafi’i, perluasan MBG di lingkungan pesantren perlu didukung pendataan santri yang akurat, distribusi tepat sasaran, serta pengawasan kualitas makanan.
Pesantren juga diharapkan terlibat dalam ekosistem program tersebut agar manfaatnya tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi turut menggerakkan ekonomi pesantren dan masyarakat di sekitarnya.
“Pesantren yang kuat harus ditopang oleh santri yang sehat, berkualitas, dan memiliki kesempatan untuk tumbuh,” katanya.
Di bidang pemberdayaan ekonomi umat, Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin mengungkapkan pengumpulan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya mencapai Rp44,698 triliun. Data yang dipaparkan Kemenag juga mencatat 149,954 juta penerima manfaat.