Saat makan, mereka bisa saling mengobrol dan bercanda satu sama lain. Megibung diyakini sudah dilakukan sejak tahun 1692 pada saat pemerintahan I Gusti Anglurah Ketut Karangasem di Kerajaan Karangasem.
Ketika prajuritnya sedang beristirahat usai penaklukan kerajaan di Sasak (Lombok), Sang Raja membuat aturan makan bersama-sama dengan melingkar. Megibung juga memiliki beberapa etika yang cukup ketat, di antaranya makan harus menggunakan tangan, sisa makanan dari mulut tidak boleh berceceran, tidak boleh bersin, meludah, dan lain-lain.
Tradisi ini kemudian diadopsi oleh Muslim di Bali dan dilaksanakan menjelang atau di akhir Ramadhan untuk menyambut Lebaran. Biasanya sebelum melaksanakan Megibung, dilakukan khataman Alquran.
Suku Betawi juga memiliki tradisi unik Ramadhan dari berbagai suku bernama Nyorog. Tradisi ini dilakukan dengan mendatangi rumah sanak saudara dan kerabat yang tinggal berjauhan sambil membawa bingkisan makanan. Biasanya, bingkisan tersebut berupa berbagai jenis kue, sembako, atau makanan khas Betawi yang dimasukkan ke rantang.
Nyorog merupakan penghormatan dari orang muda kepada yang lebih tua. Tradisi ini diyakini sudah ada sejak zaman dahulu. Situs Dinas Kebudayaan Jakarta menyebutkan Nyorog diperkenalkan oleh para wali saat berupaya menyebarkan ajaran Islam.