Jadi, seberapa besar depresiasi yang dapat membuat rupiah masuk ke dalam krisis?
Untuk itu, kita perlu melihat kembali tahun 1997, dari akhir Juni sampai akhir September 1997 atau tiga bulan. Periode ini sangat menentukan. Selebihnya hanya merupakan dampak bola salju, menggelinding dan membesar. Sudah tidak penting lagi.
Kurs rupiah selama bulan Juli 1997 terdepresiasi sekitar 7,5 persen. Padahal pertumbuhan ekonomi pada semester I 1997 tercatat tinggi: 7,65 persen, masing-masing 8,5 persen dan 6,8 persen pada kuartal I dan kuartal II 1997. Ekonomi Indonesia sangat kuat.
Menyikapi penurunan rupiah tersebut, Bank Indonesia (BI) memperlebar rentang intervensi kurs rupiah dari 8 persen menjadi 12 persen agar rupiah bisa bergerak lebih fleksibel dan mencapai titik keseimbangan baru tanpa menguras cadangan devisa.
Intervensi ini tidak banyak membantu. Kurs rupiah masih merosot sekitar 20 persen dari Juni hingga Agustus 1997. Kemerosotan tajam ini membuat investor was-was. BI juga was-was.