Makna Persepsi Publik
The New York Times pada 9 April 2026 menulis artikel bertajuk How Iran’s Information War Machine Operates Online. Media terkemuka Amerika tersebut menguraikan bagaimana strategi Iran dalam membangun narasi dan persepsi publik, termasuk terkait penembakan pesawat tempur F/A-18 sebagai kemenangan militer mereka.
The New York Times merekonstruksi bagaimana Iran mampu menggunakan jaringan global yang eksplisit maupun implisit. Jaringan ini bersama dengan pihak-pihak yang tidak menyadari keterlibatannya, turut menyebarkan pesan tersebut melalui media sosial, platform berita yang berafiliasi dengan negara, hingga influencer Amerika.
Media tersebut mencatat, narasi penembakan pesawat F/A-18 berkembang dari satu unggahan menjadi konsumsi audiens global yang terdiri dari jutaan orang hanya dalam waktu 69 menit. Video tersebut dengan cepat meraih jutaan penayangan daring, menunjukkan bagaimana Iran mengeksploitasi ekosistem media global untuk menyebarkan citra kehebatan militernya.
Sejak video itu muncul, meski belum didukung bukti yang menunjukkan Iran menembak jatuh jet F/A-18 Amerika, jutaan orang telah mengonsumsi narasi tersebut, baik yang disebarkan secara sadar maupun tidak. "Pada saat bantahan resmi muncul," tulis perusahaan pemantau Alethea dalam sebuah analisis, "audiens di berbagai negara telah memproses cerita tersebut sebagai sesuatu yang telah dikonfirmasi," tulis the New York Times.
Iran tampak sangat memahami bagaimana persepsi publik terbentuk dalam memaknai perang melawan AS-Israel saat ini. Mereka membangun konstruksi narasi yang rapi, terukur, dan selaras dengan psikologi publik. Apalagi selama Maret, Iran diklaim berhasil menembak jatuh F-15E Strike Eagle dan A-10 Warthog.
Dalam perang modern, tak hanya bicara mesin perang. Di era digital, narasi dan persepsi menjadi elemen kunci untuk memenangkan perang. Satu alinea kata-kata atau video pendek 30 detik dapat menghasilkan resonansi yang menggema ke mana-mana dalam waktu singkat.