Framing: Konstruksi Realitas
Strategi Iran dalam menyebarkan narasi perang saat ini bisa dipahami melalui apa yang disebut Erving Goffman (1974) sebagai framing. Ia menjelaskan, individu mengorganisasi pengalaman dan memaknai realitas melalui "bingkai" (frame) kognitif. Framing bukan sekadar menyajikan informasi, melainkan bagaimana isu dikemas melalui pilihan kata, gambar, dan sudut pandang untuk menonjolkan aspek tertentu sekaligus mengabaikan yang lain.
Bayi yang diberi nama Ali Khamenei dan truk bergambar Khamenei di bagian belakangnya, dikemas sebagai narasi yang memiliki makna dan efek mendalam. Bagi Indonesia sebagai negera dengan populasi muslim terbesar di dunia, dua fakta tersebut sangat strategis untuk membuka ruang empati di tengah konflik.
Hal ini bisa dipahami dalam postingan Kedubes Iran terkait dua momen tersebut. "Di Indonesia, ada aturan tak tertulis: ketika sebuah gambar muncul di belakang truk, itu berarti dukungan nyata dari rakyat. Sekarang lihat apa yang sedang bergerak.. Gerakan truk di Indonesia secara kuat mendukung Iran. Ini bukan sekadar gambar — ini adalah suara rakyat."
Flyer yang menampilkan kedua orang tua di Riau menggendong bayi Khamenei dengan latar belakang mendiang Ayatullah Ali Khamenei serta foto bayi dengan papan namanya, diposting secara masif. Konten ini kemudian direpetisi dan diamplifikasi akun-akun yang terafiliasi maupun pendukung Iran. Tujuan strategisnya adalah membentuk opini, membangun persepsi, serta memperkuat legitimasi Iran sebagai korban agresi sehingga mereka harus didukung.
Analisis the New York Times bagaimana Iran merekonstruksi narasi penembakan pesawat F/A-18 Amerika melalui media sosial untuk memperkuat citra Iran bahwa kekuatan militernya mampu mengalahkan kekuatan militer terkuat dunia. Proses pembingkaian diaktualisasikan melalui pemilihan kata, simplifikasi topik, dan pemilihan simbol bahasa untuk mempermudah audiens memahami pesan sesuai konteks.
Menarik mencermati apa yang dikatakan Roberta Rivolta tentang strategi perang narasi Iran. Kampanye media Iran selama masa perang mampu menembus dominasi narasi Barat dengan berbicara langsung kepada audiens global yang lebih muda, dalam bahasa dan estetika budaya populer AS. Hal ini menandai pembalikan historis, di mana perangkat komunikasi yang digunakan Washington justru digunakan untuk melawannya.