“Yang paling pokok itu adalah ada nilai yang harus diambil, ada value yang kira-kira harus bisa menjadi pembelajaran antara mahasiswa dan pejabat pemerintah,” ucapnya.
Ngabalin kemudian mengungkapkan pengalamannya saat bertugas di KSP. Dia menyebut pernah ada program “KSP Mendengar” yang secara khusus menjalin komunikasi dengan kalangan mahasiswa.
Menurutnya, pola dialog yang ideal adalah ketika pemerintah terlebih dahulu menyampaikan maksud kedatangan dan membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan persoalan yang ingin diteruskan kepada pemerintah maupun presiden.
Ngabalin menilai, forum “Kopdar Bareng Mas Dar” yang berujung kisruh itu dapat menjadi sarana bagi pemerintah untuk menjelaskan berbagai program yang tengah menjadi perbincangan publik, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga Sekolah Rakyat.
“Boleh jadi mereka bisa menjelaskan. Tetapi saya setuju bahwa pertemuan itu harus ada dialog yang equal,” kata Ngabalin.
Diketahui, dialog itu bertajuk “Kopdar Bareng Mas Dar” yang menghadirkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid di Universitas Gadjah Mada pada, Senin (15/6/2026) malam.
Namun, dialog tersebut berujung kisruh setelah sekelompok massa merangsek ke atas panggung.