Walaupun tugas-tugas BIN di balik layar dan cenderung tidak terlihat, Alto melihat peran nyata lembaga ini dalam kebijakan pemerintah terkait Covid-19. Sebagai contoh 'profiling' migrasi orang dari zona merah ke zona-zona lain.
Menurut dia, ada DNA BIN dalam melakukan skenario planning dan profiling. Dalam gerakan karantina mandiri yang dilakukan masyarakat juga terlihat jejak-jejak cipta kondisi yang dilakukan BIN.
“Keputusan untuk membatasi transportasi antardaerah dan antarpulau pun bisa terjadi karena ada 'scenario planning' yang dilakukan dari kacamata intelijen,” kata dia.
Tak boleh dilupakan pula, kerja sama dengan negara lain untuk mendatangkan alat-alat kesehatan ke Indonesia juga tidak mungkin terjadi tanpa peran operasi intelijen.
Alto mengingatkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) di awal sudah menyatakan perang terhadap Covid-19. Otomatis, dalam perang, hakikat utama yaitu know your enemy. Artinya, mengetahui ancaman, kemampuan, serta vulnerabilitas bangsa dalam menghadapi ancaman tersebut. Semua ini hanya bisa dilakukan oleh institusi intelijen.