Sebab, dalam asumsi APBN harga minyak berada di 70 dolar AS per barel, sementara harga saat ini menembus 120 dolar AS per barel.
Sehingga setiap kenaikan minyak 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi senilai Rp10 triliun hingga Rp13 triliun per tahun.
Selain itu, dampak kebijakan MSCI yang menahan aliran dana asing, membuat mata uang rupiah tertekan di tengah kombinasi sentimen global, tekanan makro, dan dinamika domestik. Keputusan tersebut membuka potensi keluarnya dana asing atau outflow hingga Rp15 triliun.
Kemudian, Bank Indonesia terus melakukan intervensi secara lengkap, yakni di pasar luar negeri melalui Non-Deliverable Forward (NDF), di pasar domestik melalui pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur, serta menjaga daya tarik instrumen rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
BI juga perlu menjaga komunikasi agar pasar yakin bahwa pelemahan rupiah tidak akan dibiarkan menjadi tidak teratur. Kenaikan suku bunga acuan sebaiknya menjadi pilihan terakhir, yaitu bila pelemahan rupiah makin cepat, inflasi impor mulai melebar, arus modal keluar membesar, dan instrumen pasar tidak lagi cukup menahan tekanan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.350-Rp17.400 per dolar AS.