Untuk mengantisipasi risiko keselamatan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara meminta pengelola bandara di wilayah terdampak meningkatkan kesiapsiagaan. Salah satu langkahnya adalah menerapkan Low Visibility Procedures (LVP), yakni prosedur operasional saat jarak pandang rendah, melalui koordinasi dengan AirNav Indonesia dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pengelola bandara juga diminta menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) untuk menyampaikan informasi penting terkait operasional penerbangan. Selain itu, kesiagaan di sisi udara perlu ditingkatkan, sementara pelayanan penumpang diperkuat melalui pembaruan informasi penerbangan dan penyediaan masker.
Di tengah gangguan tersebut, operasi pemadaman karhutla melalui udara atau water bombing masih berlangsung. Hingga 20 Oktober 2026, operasi ini telah mencapai 5.320 flight cycle dengan melibatkan 39 pesawat dari 11 operator.
Bandara di wilayah terdampak turut mendukung upaya pemadaman dengan menyediakan area parkir pesawat dan helikopter, memberikan prioritas slot penerbangan, serta mendata sumber air dan ketersediaan bahan bakar.
Kemenhub juga mengungkapkan bahwa sejumlah maskapai telah membatalkan 40 penerbangan yang dijadwalkan pada 22–25 Oktober 2026. Pembatalan terutama terjadi pada rute dari dan menuju Pangkalan Bun, Sampit, Ketapang, dan Singkawang.
Lukman mengimbau penumpang untuk memantau status penerbangan melalui kanal resmi maskapai dan bandara karena jadwal dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi cuaca dan jarak pandang.
Penumpang yang mengalami pembatalan diminta segera menghubungi maskapai untuk mendapatkan informasi mengenai penjadwalan ulang (reschedule) atau pengembalian biaya tiket (refund).