Being Connected

Komaruddin Hidayat

Orang pun jadi terbiasa berpikir dan bersumbu pendek, tumbuh budaya copy-paste, pengetahuan yang diterima berupa penggalan-penggalan, malas duduk sendiri berlama-lama menikmati buku tebal. Situasi ini juga menciptakan dislokasi, orang merasa tidak nyaman dan tidak tahu harus merespons apa yang terjadi karena terdapat jarak pengetahuan.

Di Indonesia pengaruh teknologi digital ini sangat menyolok, terlebih lagi ketika mendekati pilkada atau pemilu. Di sana terjadi perang kata dan manuver provokasi, caci maki dan bahkan intimidasi terhadap lawan politiknya. Perang di medsos ini semakin panas ketika identitas agama dibawa-bawa. Orang akan mencari-cari dan membidik kelemahan serta kesalahan lawan.

Bila Anda memiliki seratus statemen, lalu terdapat satu statemen yang salah, maka kesalahan yang satu yang akan diperbesar untuk menegasikan yang lain meskipun benar. Sampai-sampai ada ungkapan, wacana di medsos sangat kejam karena jari tak memiliki hati dan mata untuk melihat lawan bicaranya.*

*Artikel ini telah tayang di Koran SINDO

Editor : Zen Teguh
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Viral Kajian BEM Fakultas Psikologi terkait LGBT, UI: Bukan Sikap Resmi Kampus

57 tahun lalu

Bukan Cuma Pakai Kata Sandi, Begini Cara Pelaku Judi Online Menjebak Korban

57 tahun lalu

Komdigi Ungkap Komentar Spam Judol Meningkat 128 Persen di Medsos, Pakai Sistem Otomatis

57 tahun lalu

Menkomdigi Soroti Kasus Penyekapan di Bandung, Minta Masyarakat Bijak Main Medsos

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal