JAKARTA, iNews.id – Badan Nasional Narkotika (BNN) mengaku tak mudah mencegah dan membongkar kasus-kasus narkoba. Selain makin masif, alat yang dipakai jaringan pengedar obat-obatan terlarang itu makin maju. Berbanding terbalik dengan sarana dan prasarana di Indonesia.
Kepala BNN Budi Waseso mengungkapkan, sarana menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mengatasi peredaran narkoba.
”Peralatan kita ini sudah ketinggalan zaman, mendeteksi perkembangan jaringan narkotika di lapangan ini untung-untungan" kata Budi dalam diskusi tentang Darurat Narkoba di ruang Fraksi PKS DPR, Jakarta, Kamis (7/12/2017).
Bahkan untuk jaringan narkoba asal China, pejabat yang akrab disapa Buwas itu menggambarkan teknologi yang dipakai sangat maju. Hal ini membuat BNN kesulitan untuk mengendus pergerakan mereka.
"Kami (BNN) tidak bisa mendeteksi, gelap, blank," katanya. Karena itu dia mengingatkan jika tidak didukung dengan sarana dan pendanaan yang cukup, BNN akan kalah dengan jaringan narkoba.
"Karena ini kan ancamannya negara dan berkaitan dengan generasi bangsa kita ke depan. Nah sudah seharusnya kita menangani dengan keseriusan," kata dia.
BNN sebelumnya merilis data bahwa Indonesia dalam kondisi darurat narkoba. Dari sekitar 5 juta pengguna narkoba, 40-50 orang per hari meninggal. Adapun kerugian negara akibat obat-obatan terlaran ini mencapai Rp63,1 triliun. BNN mendeteksi setidaknya 60 jaringan narkoba beroperasi di Indonesia.