Perlakuan tidak adil selanjutnya adalah saat kediaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diserang sejumlah orang tidak dikenal. Hinca mengaku penyerangan tersebut telah dipolisikan namun hingga saat ini tidak ada kelanjutan proses penegakan hukumnya.
"Tapi kami tidak mendengar hasil akhirnya hingga sekarang," katanya.
Keadilan yang tidak berpihak kepada PD selanjutnya adalah saat mantan Ketua KPK Antasari Azhar melontarkan tuduhan yang menyudutkan SBY. Hinca mengungkapkan, tuduhan Antasari tersebut sukses merusak popularitas AHY-Sylvi di Pilkada Jakarta 2017.
"Tuduhan tidak berdasar Antasari Azhar sudah kami laporkan pada penegak hukum tapi masih belum diproses secara tuntas. Kenyataannya pada hari itu pasangan AHY-Sylvi menempati survei tertinggi tapi kemudian tergerus. Meski begitu, kami menganggap itu selesai dan kami akui yang keluar sebagai pemenangnya (Anies Baswedan-Sandiaga Uno)," ungkapnya.
Semua perlakuan tidak adil bertambah berat bagi Demokrat setelah SBY dituding mendanai aksi kolosal bela Islam 411 dan 212. Hinca berharap perlakuan tidak adil yang diterima partainya tidak terulang.
"Pada waktunya akan kami buka agar tidak terulang lag. Dalam pertemuan ini kami membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keadilan dan demokrasi khususnya dalam pilkada," ucapnya.