Jika pulau dewata hanya digunakan sebagai komoditas ruang untuk membangun lebih banyak vila, maka pertumbuhan ekonomi pada akhirnya dapat menggerus sumber daya yang justru menjadi alasan utama orang datang ke Bali. Paradoksnya sangat sederhana: Bali dapat kehilangan daya tariknya, karena terlalu sukses menjual daya tariknya sendiri.
Oleh karena itu, masa depan properti Bali tidak seharusnya diukur dari seberapa banyak lahan yang berhasil dikonversi menjadi bangunan, namun seberapa besar nilai ekonomi yang dapat diciptakan tanpa mengorbankan ecological capital dan social capital.
Inilah saatnya kolaborasi antara pemerintah, pengembang, arsitek, investor, akademisi, komunitas lokal dan industri pariwisata untuk membangun definisi bersama mengenai apa yang disebut sebagai sustainable property. Bukan sekadar slogan, bukan melalui greenwashing, melainkan melalui indikator yang tepat dan dapat diukur, dibandingkan dan diverifikasi.
Bali memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar destinasi properti bagi konsumen internasional.
Sebuah laboratorium pembangunan hunian tropis berkelanjutan—tempat teknologi global bertemu dengan kearifan lokal; tempat luxury bertemu dengan tanggung jawab; dan tempat pertumbuhan ekonomi tidak harus berlawanan dengan keberlanjutan ekologis.
Karena jika gelombang pertama pembangunan Bali menjual lokasi, gelombang kedua menjual lifestyle, maka gelombang berikutnya harus mampu menjual sesuatu yang lebih fundamental: a better way of living without destroying the place that makes that life worth living. Dan mungkin, di situlah definisi baru kemewahan Bali sesungguhnya berada.