Ada banyak motif di balik kegiatan konsumsi media. Menurut Papacharissi & Rubin (2000) dalam Rachmazein & Soedarsono (2021), terdapat lima motif utama seseorang dalam menggunakan media, khususnya media baru, yaitu (1) Motif Utility, yang terkait dengan manfaat utama dari internet berdasarkan kebutuhan khalayak; (2) Passing Time, terkait dengan fungsi internet yang diaplikasikan untuk mengisi waktu luang; (3) Seeking Information, terkait dengan informasi yang bisa diperoleh pengguna ketika menggunakan media; (4) Convenience, berhubungan dengan penggunaan media sebagai perwakilan emosi yang dimiliki penggunanya; (5) Entertainment, berhubungan dengan penggunana media untuk tujuan hiburan.
Berdasarkan lima motif tersebut, hasil penelitian menyebutkan passing time yang tertinggi. Artinya, kaum lanjut usia banyak mengakses Facebook untuk kepentingan pribadi di waktu senggang atau sekadar mengisi waktu. Mereka terbiasa menggunakan Facebook untuk bersosialisasi dengan teman atau sekadar mendapatkan informasi dan selalu update dalam mendapatkan informasi. Dengan media sosial Facebook, para kelompok usia lanjut ini juga menemukan kenyamanan ketika mengaksesnya karena dianggap lebih mudah digunakan. Tak heran, mereka pun merasa terhibur dengan adanya media sosial Facebook.
Hal senada disampaikan kepada penulis ketika menjadi pembicara dalam webinar bertajuk 'Cara Bijak Menggunakan Gawai Bagi Lansia' yang diadakan media komunitas lansia geriatri.id pada September 2021 lalu. Para lansia yang menghadiri acara ini secara daring menjelaskan mereka senang mendapatkan informasi yang beragam dari internet dan tak segan untuk meneruskan kepada orang-orang terdekatnya. Mereka sama sekali tidak memikirkan akibat yang ditimbulkan jika ternyata informasi tersebut tergolong hoaks. Akibatnya muncul lah konflik dengan anak dan keluarga, menimbulkan rasa minder dan sakit hati dalam diri generasi tua ini.
Mengapa generasi tua melakukan hal yang tidak bertanggung jawab seperti itu? Hal ini disebabkan karena generasi tua memiliki pola pikir berbeda dengan generasi muda saat berhadapan dengan media sosial. Penyebabnya, orang tua lebih terlambat mengenal dan menggunakan internet dan media sosial dibandingkan generasi lebih muda (milenial dan generasi Z). Kesenjangan ini masih ditambah adanya persoalan biologis yang membuat kemampuan kognitif mereka menurun seiring bertambahnya usia.
Berbeda dengan generasi muda, mereka lebih memahami cara mengonfirmasi kebenaran dari satu informasi sebelum membagikannya ke publik. Sebaliknya, kaum lansia cenderung berpaku pada kecepatan. Mereka menganggap dirinya adalah pemimpin atau pihak yang dianggap senior sehingga perlu menjadi yang terdepan dalam menyampaikan informasi, meski belum tentu benar.
Dalam laporan Tirto sebelumnya, penyebaran berita bohong atau hoaks lebih sering dilakukan oleh orang tua berumur 45 sampai 60-an karena orang tua hanya melanjutkan pesan tersebut tanpa mengetahui kebenaran sesungguhnya.