Larangan mendekati Gunung Anak Krakatau bukan sekadar pembatasan aktivitas wisata. Kawasan gunung api aktif memiliki potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan orang yang berada terlalu dekat dengan pusat erupsi.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta aliran lava apabila terjadi erupsi menerus. Ada pula potensi erupsi sekunder akibat material vulkanik bersuhu tinggi yang bersentuhan dengan air laut atau air hujan.
Laporan pengamatan PVMBG pada Minggu, 11 Oktober 2026 pukul 12.00–18.00 WIB, menunjukkan Gunung Anak Krakatau terlihat jelas dengan asap kawah berwarna putih, berintensitas tipis hingga sedang, dan mencapai ketinggian 10–50 meter di atas puncak kawah.
Dalam periode pengamatan yang sama, petugas juga mencatat 28 kali kegempaan, terdiri atas 16 kali gempa hembusan, enam kali gempa hybrid atau fase banyak, dan enam kali gempa vulkanik dangkal.
Data tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas gunung api masih dipantau secara intensif. Kondisi visual yang tampak tenang pada suatu waktu tidak serta-merta berarti kawasan di sekitar kawah aman untuk dikunjungi.