Sementara itu, inflasi volatile food di Kalimantan mencapai 7,62 persen, terutama dipicu oleh komoditas beras.
Untuk mempercepat pemantauan dan distribusi pangan, BI mengembangkan dashboard rantai pasok terintegrasi yang terhubung dengan neraca pangan milik Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Di mana pemerintah dapat memantau daerah mana yang surplus dan defisit untuk setiap komoditasnya, berapa stok yang tersedia, kemudian juga berapa biaya distribusinya hingga jalur distribusi yang paling efisien,” kata dia.
Ricky menegaskan, BI bersama 46 kantor perwakilan di daerah terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Kolaborasi tersebut dilakukan untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan di tengah risiko perubahan iklim.
“Bank Indonesia melalui 46 kantor perwakilan di daerah bersama pemerintah daerah dan stakeholder yang tergabung dalam TPID akan terus melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas harga di daerah,” tuturnya.