Hari Orang Utan Sedunia diperingati setiap tanggal 19 Agustus. (Foto: Antara)
Carlos Roy Fajarta

JAKARTA, iNews.id - Momen Hari Orang Utan Sedunia diperingati pada 19 Agustus 2022. Terkait hal itu, Komisi IV DPR mendorong pemerintah untuk meningkatkan upaya konservasi habitat orang utan di berbagai wilayah Indonesia mengingat luas hutan yang menjadi habitat primata terus berkurang.

“Kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para pecinta satwa, saya mengucapkan Happy World Orang Utan Day 2022. Mari kita selamatkan dan jaga terus orangutan untuk ekosistem yang lebih baik,” kata anggota Komisi IV DPR, Daniel Johan, Jumat (19/8/2022).

Menurutnya, orang utan sebagai satwa endemik Indonesia yang unik dan ikonik harus terus dijaga. Apalagi, kata Daniel, habibat kera besar tersebut sangat terbatas yakni hanya di Pulau Sumatra dan Kalimantan.

“Saat ini populasi orang utan semakin terancam akibat pembukaan lahan yang berlebihan sehingga menimbulkan fragmentasi habitat orang utan,” tuturnya.

Seperti diketahui Indonesia memiliki tiga spesies orang utan yakni orang utan Sumatra (Pongo abelii), orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus), dan orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Orang utan merupakan satwa yang dilindungi dalam hukum nasional berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 

Daniel pun menyoroti status ketiga spesies orang utan yang masuk dalam Daftar Merah Satwa Dunia yang Terancam dari International Union for the Conservation of Nature (IUCN). Padahal orang utan memiliki peran penting untuk menjaga regenerasi hutan yakni sebagai penebar biji.

“Habitat orang utan semakin sempit karena kawasan hutan yang merupakan tempat tinggalnya dijadikan lahan kebun kelapa sawit, pertambangan, dan ditebang secara liar. Tak jarang juga terjadi konflik dengan manusia sehingga orang utan dilukai bahkan dibunuh,” ucap Daniel.

Untuk itu, legislator dari Dapil Kalimantan Barat ini meminta pemerintah menyiapkan rencana tata ruang berbasis ekosistem di berbagai wilayah habitat orang utan. Dengan begitu, menurut Daniel, orang utan dapat lebih terlindungi.

“Kerja sama Pemerintah dengan pengusaha penggarap hutan juga perlu ditingkatkan sehingga pihak swasta dapat lebih berperan dalam penyelamatan lingkungan tempat hidup orang utan,” ujarnya.

Daniel pun mengimbau agar masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah habibat orang utan untuk dilibatkan dalam upaya menjaga keberlangsungan hidup orang utan.

“Jangan sampai Indonesia kehilangan satwa yang jumlahnya tinggal sedikit ini. Saya kira program pelestarian orangutan demi menjaga keberlangsungan siklus alam di hutan tropis kita harus lebih digalakkan,” tutur Daniel.

Lebih lanjut, Komisi IV DPR yang membidangi urusan kehutanan dan lingkungan hidup ini menilai perlu ada jaminan keamanan yang lebih bagi orang utan lewat produk-produk hukum. Sebab Daniel melihat payung hukum yang ada saat ini belum optimal.

“Jeratan hukum terhadap para pelaku perburuan, perdagangan, pembunuhan, dan kepemilikan orang utan masih lemah dan belum efektif dalam memberikan efek jera,” ucap tokoh pecinta satwa tersebut.

Daniel mengatakan laporan semakin masifnya kasus kejahatan terhadap orang utan harus dapat segera diatasi. 

“Primata ini banyak diburu karena dianggap hama oleh masyarakat di sekitar habitatnya. Bayi orang utan juga banyak diperjualbelikan secara ilegal dan ini adalah sebuah tindak kejahatan. Kita harus tegas terhadap setiap tindak kejahatan kepada orangutan,” ujarnya.

Di sisi lain, Daniel mengapresiasi berbagai pihak yang membantu penyelamatan dan pelestarian orang utan. Baik dari LSM, kalangan akademisi maupun kelompok elemen masyarakat lainnya.

“Mari kita berikrar untuk melindungi semua orang utan yang tersisa dan memberi mereka perhatian dan perawatan yang layak mereka dapatkan. Save orang utan,” tutur Daniel.



Editor : Rizal Bomantama

BERITA TERKAIT