"Mangayubagyo merupakan ungkapan rasa syukur keluarga yang ingin dibagikan bersama masyarakat. Kami membuka ruang bagi masyarakat untuk turut berbahagia serta menyampaikan doa dan pangestu bagi kedua mempelai," ujar Ayu.
Sekitar 200 undangan dari panti dan kelompok sosial turut hadir setiap hari sebagai bagian dari kegiatan tersebut. Dengan demikian, Mangayubagyo tidak hanya menjadi perayaan pernikahan, tetapi juga kesempatan bagi berbagai lapisan masyarakat untuk saling bertemu dan merasakan kebersamaan.
Hal menarik lainnya, Mangayubagyo juga memberikan ruang bagi abdi dalem dan pelaku usaha lokal untuk mengambil bagian dalam perayaan.
Salah satunya Feri Setyawan, abdi dalem yang sehari-hari bertugas menjaga kebersihan dan pertamanan Pura Mangkunegaran. Di luar tugas pengabdiannya, Feri juga mengelola usaha wedangan khas Solo.
Dalam kesempatan tersebut, dia membawa sejumlah minuman tradisional, mulai dari wedang ronde, wedang asle, hingga wedang kacang. Masing-masing disiapkan sekitar 30 porsi dan seluruhnya habis dinikmati para tamu.