“Kemunculan blue fire tidak otomatis berarti gunung akan segera meletus. Fenomena ini lebih menunjukkan adanya pelepasan gas panas (degassing) dan aktivitas fumarola atau sistem hidrotermal,” ujarnya.
Dia menambahkan, peningkatan aktivitas gunung api tidak bisa ditentukan hanya dari kemunculan blue fire. Penilaiannya perlu melihat berbagai parameter, mulai dari kegempaan, deformasi, temperatur, hingga perubahan komposisi dan fluks gas.
Daryono turut mengingatkan potensi bahaya gas vulkanik di sekitar fumarola. Gas seperti SO₂ dan H₂S dapat bersifat beracun, sementara CO₂ dalam konsentrasi tinggi dapat mengurangi ketersediaan oksigen.
“Karena itu, jgn menjadikan blue fire sebagai alasan utk mendekati kawah demi foto atau video. Jgn mendekati lubang fumarola atau rekahan yg mengeluarkan gas, jangan memasuki area yg telah dibatasi petugas, dan hindari berlama-lama di cekungan atau tempat rendah karena gas tertentu dapat terakumulasi di sana,” katanya.
Masyarakat yang mendaki juga diminta segera menjauh jika mencium bau belerang yang sangat menyengat, mengalami mata atau tenggorokan perih, pusing, sesak, atau melihat kepulan gas bergerak ke arah mereka.
“Pesan terpentingnya sederhana: blue fire memang indah, tetapi jgn mengejarnya. Dalam mitigasi gunung api, keselamatan lebih penting daripada mendapatkan foto terbaik. Patuhi zona aman dan rekomendasi resmi PVMBG serta pengelola kawasan,” pungkasnya.