“Beberapa komoditas yang menyumbang deflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau adalah bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,11 persen, 0,06 persen, 0,06 persen, 0,03 persen, dan 0,03 persen,” jelas Ateng.
Di sisi lain, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,06 persen, disusul kelompok pendidikan sebesar 0,03 persen.
Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, komponen bergejolak (volatile food) mengalami deflasi sebesar 1,68 persen dengan andil deflasi 0,28 persen. Sementara komponen inti mengalami inflasi 0,14 persen dengan andil 0,09 persen, sedangkan komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi 0,25 persen dengan andil 0,05 persen.
Secara wilayah, BPS mencatat Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan deflasi bulanan terdalam sebesar 1,37 persen. Sebaliknya, Kalimantan Barat mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,38 persen. Dari total 38 provinsi, sebanyak 27 provinsi mengalami deflasi dan 11 provinsi mengalami inflasi pada Juli 2026.
Untuk inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,87 persen. Selanjutnya diikuti kelompok transportasi sebesar 0,62 persen dan kelompok perawatan pribadi serta jasa lainnya sebesar 0,61 persen.