Jadi, usulan debat Bahasa Inggris bukan sesuatu yang krusial?
Itu kan canda-candaan, jadi kita lihat itu masih canda-candaan, belum substansi pada bagaimana kita mendapatkan seorang presiden yang memang layak untuk Indonesia gitu. Emang kayak debat di kampus? Ini kan enggak. Ini kan bagaimana menata bangsa. Jadi saya lihat (pertarungan) masih belum karena pak Prabowo-nya belum muncul-muncul juga.
Artinya mengkritisi penguasaan bahasa Inggris Jokowi tidak tepat?
Itu kan cuma gimmick-gimmick lah, gimmick-gimmick dalam proses pemilu yang kita lihat tidak substansi dalam melihat kondisi bangsa. Bangsa Indonesia kan butuhnya bukan itu. Bangsa kita butuhnya apa? Kita ingin membangun bangsa ke depan bagaimana? Jadi bukan gimmick-gimmick yang seperti itu.
Bisa dikatakan Anda belum melihat ada persaingan sesungguhnya antara Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandi?
Jadi pertempuran belum substansi. Mungkin Pak Prabowo-nya belum muncul kali. Masih Sandi (yang muncul). Kita tahu Sandi yang kadang-kadang suka bercanda. Ya, ini masih bercanda-canda lah kita anggap. Tapi kalau kubu sebelah masih seperti ini terus, bisa kalah kelak nanti.
Bagaimana dengan isu tentang iklan kinerja Jokowi di bioskop?
Seperti saya sampaikan sebelumnya, bahwa soal iklan ini kan masalah bagaimana pemerintah menyampaikan program-programnya dan salah satunya melalui sosialisasi. Justru iklan itu pertanggungjawaban pemerintah kepada publik, tentunya dengan sosialisasi.
Semua lembaga itu punya namanya anggaran sosialisasi. Bentuknya iklan atau apa itu ada. Dan itu adalah pertanggungjawaban apa yang meraka kerjakan selama ini. Nah bentuknya sekarang dibuat dalam bentuk iklan di bioskop. Enggak ada masalah itu, sesuatu yang lumrah karena semua lembaga pasti ada namanya program sosialisasi. Itu pasti ada.