Ketua DPW Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Sumatera Selatan, Febuar Rahman. (Foto MPI).
Nur Khabibi

JAKARTA, iNews.id - Ketua DPW Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Sumatera Selatan, Febuar Rahman meminta Pondok Pesantren Gontor Ponorogo untuk lebih ketat dalam pengawasan. Tujuanya agar kejadian santri tewas tak terulang. 

"Kalau di tempat tersebut ada budaya perbedaan yang tajam antara senior dan junior perlu ditinjau dan atau pihak pesantren harus evaluasi secara menyeluruh apa yang menjadi penyebab hal tersebut sampai terjadi, karena masyarakat selama ini tahu Pesantren Modern Gontor ini merupakan salah satu pesantren favorit bagi orang tua," kata Rahmad kepada MNC Portal Indonesia, Rabu (14/9/2022).

Diketahui, santri berinisial AM (17) tewas di Ponpes Gontor berasal dari Palembang. Kasus tersebut viral setelah ibu korban bertemu dengan pengacara Hotman Paris di Palembang 4 September 2022. 

Kasus baru dilaporkan ke Polres Ponorogo oleh pihak pondok pada 6 September. Hasil penyidikan, polisi menahan dua kakak kelas yang dinyatakan sebagai tersangka. Satu tersangka MFA (18) ditahan di Mapolres Ponorogo. Tersangka kedua, IH (17) dititipkan di rumah tahanan anak-anak.

Dia mengapresiasi langkah Polresta Ponorogo mengusut tuntas kasus dugaan penganiayaan ini. Pria yang juga berprofesi sebagai advokat itu menyatakan pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Secara hukum pidana tetap siapa saja (orang) yang melakukan tindak pidana akan mendapat sanksi hukum, Pelaku dijerat pasal 80 ayat (3) jo pasal 76c Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang tindak pidana penganiayaan dengan ancaman kurang lebih 15 tahun penjara,” kata Fabuar.

Menurut dia, meski salah satu pelaku masih di bawah umur, namun bisa di pidana dalam UU Sistem Peradilan Pidana Anak, yakni UU Nomor 11 Tahun 2012.

"Anak yang umurnya di bawah 18 tahun bisa dipidana sebagaimana diatur pada Pasal 69 yang mengatur tentang Tindakan; Anak baru bisa dipidana badan apabila anak sudah berumur 14 tahun sampai umur 18 tahun dan ditegaskan lagi pidana penjara terhadap anak hanya digunakan sebagai upaya akhir," paparnya.



Editor : Faieq Hidayat

BERITA TERKAIT