Gus Dur dan Sinta Nuriyah menata kehidupan rumah tangga dari nol. Meski sama-sama berasal dari keluarga kiai terkemuka, keduanya merasakan pengalaman hidup yang sulit. Hingga tahun 80-an, keduanya masih mengontrak. Padahal saat itu Gus Dur sudah dikenal sebagai tokoh publik.
Berjualan es, menulis di koran, dan berbagai kegiatan lain dilakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Gus Dur dan Sinta membangun model keluarga yang penuh ketersalingan (mubadalah), saling melengkapi, dan saling mendukung.
Pernikahan jarak jauh antara Gus Dur dan Sinta Nuriyah ini sering menjadi cerita dan menjadi contoh bahwa pernikahan itu boleh dilakukan in absentia, asalkan ada orang yang mewakilinya.
Dilansir dari laman Instagram @fotojadoel, awal perkenalan Gus Dur dan Sinta ternyata melalui perantara orang ketiga, yakni paman Gus Dur, Kiai Fatah. Waktu itu, Gus Dur berniat melanjutkan studinya ke Kairo, Mesir.
Dia diwanti-wanti oleh pamannya agar menikah lebih dahulu.
“Soalnya kalau kamu menunggu menikah pulang dari luar negeri, kamu hanya akan mendapat wanita tua yang cerewet,” kata Kiai Fatah.
Sang paman pun membantunya mencarikan jodoh hingga ketemu nama Sinta, yang ternyata pernah menjadi murid Gus Dur. Gus Dur segera mengiyakan tawaran itu. Namun Sinta belum bersedia lantaran trauma dengan salah seorang guru yang pernah meminangnya ketika dia masih berusia 13 tahun. Celakanya, nama guru itu juga Abdurrahman.
“Ah, Abdurrahman lagi, Abdurrahman lagi,” komentar Sinta ketika menerima surat dari Gus Dur pertama kalinya.