Kisah ini seperti ditulis Guntur Wiguna dalam buku: Koleksi Humor Gus Dur. Namun pada akhirnya Sinta mulai bersimpati kepada Gus Dur ketika dia menerima surat dari Gus Dur yang mengeluhkan bahwa dia tidak naik tingkat karena terlalu aktif di Persatuan Pemuda Indonesia (PPI).
Lewat surat balasannya Sinta berusaha menghibur. “Masak manusia harus gagal dalam segala-galanya. Gagal dalam studi, paling tidak berhasil dalam jodoh,” kata Sinta dalam suratnya.
Selama tahun-tahun yang dihabiskan Gus Dur di Kairo, dia memang terus berkomunikasi dengan Sinta. Gus Dur pun memaknai datangnya surat secara teratur dari Sinta sebagai tanda dirinya tidak ditolak. Setelah sekian lama berhubungan lewat surat, Gus Dur akhirnya melamar Sinta Nuriyah. Tak langsung dijawab oleh Sinta karena merasa belum yakin.
Dalam buku Biografi Gus Dur yang ditulis Greg Barton, diceritakan Sinta mengaku pernah bertanya ke seseorang terlebih dahulu sebelum menjawab lamaran Gus Dur. "Apakah Gus Dur benar-benar pemuda yang tepat baginya. Atau, apakah dia harus mencari pemuda lain?" sepenggal tulisan dalam buku tersebut.
Namun jawaban seseorang itu jelas. “Jangan mencari-cari lagi, yang sekarang ini (Gus Dur ) akan menjadi teman hidup Anda.”
Akhirnya Sinta memutuskan menerima Gus Dur sebagai teman hidupnya. Pada pertengahan 1966, Gus Dur meminangnya, dan keduanya bertunangan. Dua tahun kemudian, 1968, Gus Dur akhirnya menikahi Sinta secara jarak jauh dengan wakil mempelai pria adalah Kiai Bisri Syansuri.
Dalam sebuah cerita, Gus Dur juga pernah ditanya apakah boleh akad nikah dilakukan melalui Yahoo Messenger, satu teknologi chat yang terkenal awal-awal tahun 2000? Gus Dur menjawab: “Boleh saja, asal bercintanya jarak jauh juga”.