Raja Kesultanan Mataram, Sultan Agung dua kali gagal menaklukkan Batavia. (Foto: Wikipedia/Basoeki Bawono)
Anicolha

JAKARTA, iNews.id - Kesultanan Mataram mengalami masa kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma pada 1613-1645 Masehi. Selain mengalami kemajuan di berbagai bidang, Kesultanan Mataram hampir menguasai seluruh Pulau Jawa.

Namun masih ada dua wilayah yang belum dikuasasi Kesultanan Mataram karena di bawah pengaruh VOC yaitu Banten dan Batavia. Keberadaan VOC di dua wilayah itu sangat mengganggu pergerakan dagang Mataram ke Malaka, ditambah lagi hubungan Mataram dan VOC yang sudah mulai renggang, bahkan kontak senjata kerap terjadi.

Kesultanan Mataram terus berupaya mengusir VOC dari Batavia, namun sayang dua kali serangan yang dilancarkan selalu gagal. Akibatnya membuat VOC semakin leluasa memaksakan monopoli dan memperluas pengaruhnya di daerah-daerah lain.

Sebelum Mataram menyerang VOC di Batavia, kedua pihak saling mengirim duta besar. Akan tetapi, VOC ternyata menolak membantu saat Mataram menyerang Surabaya. Akibatnya, hubungan diplomatik kedua pihak pun putus.

VOC yang sebelumnya bermarkas di Ambon, Kepulauan Maluku, mengirimkan dutanya untuk mengajak Sultan Agung agar mengizinkan VOC untuk mendirikan loji-loji dagang di pantai utara Mataram. Namun hal ini ditolak Sultan Agung karena bila diizinkan maka ekonomi di pantai Utara akan dikuasai oleh VOC. Penolakan ini membuat hubungan Mataram dan VOC sejak saat itu renggang.

Pada tahun 1619 VOC berhasil merebut Jayakarta (di bagian Barat pulau Jawa yang belum ditaklukkan Mataram) dari Kesultanan Banten. Kemudian VOC mengganti namanya menjadi "Batavia" (sekarang Jakarta).

Markas mereka pun dipindah ke Kota Batavia. Menyadari kekuatan bangsa dan maskapai dagang Belanda tersebut, Sultan Agung mulai berpikir untuk memanfaatkan VOC dalam persaingannya menghadapi Surabaya dan Kesultanan Banten.

Sasaran Mataram berikutnya setelah Surabaya jatuh yaitu Banten yang ada di ujung barat Pulau Jawa. Akan tetapi posisi Batavia yang menjadi penghalang perlu diatasi terlebih dahulu oleh Mataram.

Bulan April 1628 Kyai Rangga selaku Bupati Tegal dikirim sebagai duta ke Batavia untuk menyampaikan tawaran damai dengan syarat-syarat tertentu dari Mataram. Tawaran tersebut ditolak pihak VOC sehingga Sultan Agung memutuskan untuk menyatakan perang.

Serangan pertama yang dilancarkan ke Batavia pada tahun 1628. Dalam serangan ini, pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Baureksa. Pada 22 Agustus 1628, mulai terjadi pertempuran antara tentara Mataram dengan VOC.

Pasukan Mataram berdatangan dari berbagai daerah seperti pasukan di bawah pimpinan Sura Agul-Agul yang dibantu oleh Kiai Dipati Mandureja dan Upa Santa. Datang pula laskar orang-orang Sunda yang dipimpin oleh Dipati Ukur. Terjadi pertempuran salah satunya di Benteng Holandia. Pada akhir pertempuran, Mataram tidak berhasil menaklukkan kota Batavia.

Kegagalan pada serangan pertama disebabkan Mataram kalah persenjataan, kekurangan bahan makanan, dan jarak antara Mataram dengan Batavia yang terlalu jauh. Bahkan, pembendungan sungai yang dilakukan oleh tentara Mataram berdampak menyebarnya wabah penyakit.

Hasil ini membuat Sultan Agung murka dan menghukum mati tentara yang masih ada seperti Tumenggung Baureksa dan Pangeran Mandureja. Setelah mengalami kegagalan pada serangan pertama, maka serangan kedua ke Batavia kembali dilancarkan pada tahun 1629. 

Kali ini, dipimpin Tumenggung Singaranu, Kiai Dipati Juminah, dan Dipati Purbaya. Dalam serangan kedua, Sultan Agung memerintahkan untuk mendirikan lumbung-lumbung padi di daerah Tegal dan Cirebon.

Ternyata informasi persiapan pasukan Mataram diketahui oleh VOC. Dengan segera VOC mengirim kapal-kapal perang untuk menghancurkan lumbung-lumbung yang dipersiapkan pasukan Mataram.

Di Tegal, tentara VOC berhasil menghancurkan 200 kapal Mataram, 400 rumah penduduk, dan sebuah lumbung beras. Pasukan Mataram pantang mundur, dengan kekuatan pasukan yang ada terus berusaha mengepung Batavia. Pasukan Mataram berhasil mengepung dan menghancurkan Benteng Hollandia.

Berikutnya, pasukan Mataram mengepung Benteng Bommel, tetapi gagal menghancurkan benteng tersebut. Pada saat pengepungan Benteng Bommel, terpetik berita JP Coen meninggal. 

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 21 September 1629. Dengan semangat juang yang tinggi pasukan Mataram terus melancarkan serangannya.

Dalam situasi yang kritis ini pasukan Belanda semakin marah dan meningkatkan kekuatannya untuk mengusir pasukan Mataram. Dengan mengandalkan persenjataan yang lebih baik dan lengkap, akhirnya dapat menghentikan serangan-serangan pasukan Mataram.

Pasukan Mataram semakin melemah dan akhirnya ditarik mundur kembali ke Mataram. Dengan demikian serangan Sultan Agung yang kedua ini juga mengalami kegagalan. Dapat diambil kesimpulan serangan Mataram yang kedua gagal dikarenakan adanya pengkhianat yang menunjukan letak lumbung-lumbung padi tentara Mataram.

Dengan kegagalan pasukan Mataram menyerang Batavia, membuat VOC semakin berambisi untuk terus memaksakan monopoli dan memperluas pengaruhnya di daerah-daerah lain. Namun di balik itu VOC selalu khawatir dengan kekuatan tentara Mataram.

Tentara VOC selalu berjaga-jaga untuk mengawasi gerak-gerik pasukan Mataram. Sebagai contoh pada waktu pasukan Sultan Agung dikirim ke Palembang untuk membantu Raja Palembang dalam melawan VOC, langsung diserang oleh tentara VOC di tengah perjalanan.


Editor : Rizal Bomantama

BERITA TERKAIT