Raja Kesultanan Mataram, Sultan Agung menggunakan senjata biologis untuk menaklukkan Kadipaten Surabaya. (Foto: Wikipedia/Basoeki Bawono)
Yuswantoro

JAKARTA, iNews.id - Setelah kegagalan penaklukan Banten, Raja Kesultanan Mataram, Sultan Agung berubah haluan. Dia melakukan pengiriman ekspedisi penaklukan wilayah timur Jawa yang kala itu berada di bawah pengaruh Kadipaten Surabaya.

Akhmad Saiful Ali mengisahkan penaklukan itu dalam hasil penelitiannya untuk tesis di IAIN Sunan Ampel Surabaya berjudul "Ekspansi Mataram terhadap Surabaya Abad ke 17: Tinjauan Historis Tentang Penaklukan Surabaya oleh Mataram abad ke 17".

Kadipaten Surabaya, yang pusatnya menjadi Kota Surabaya saat ini dahulunya merupakan kerajaan besar usai terpecahnya Kesultanan Demak menjadi tiga bagian pada abad ke-16. Selain Kadipaten Surabaya, pada abad 17 terdapat dua kekuatan besar yakni Kesultanan Banten di Jawa Barat, dan Kesultanan Mataram di Jawa Tengah.

Kala itu, Kadipaten Surabaya, sangatlah kaya dan kuat. Pelabuhannya menjadi jalur perdagangan penting antara Malaka dengan kepulauan Nusantara penghasil rempah-rempah. Kadipaten Surabaya bersekutu dengan Kadipaten Pasuruan. Bahkan, Kadipaten Surabaya juga menguasai wilayah Gresik, Sedayu, Sukadana hingga Banjarmasin.

Kekuatan Kadipaten Surabaya juga terkonsolidasi dengan Tuban, Malang, Kediri, Lasem serta Madura. Konsolidasi kekuatan di timur Jawa ini terjadi sebagai respon kekuatan Mataram yang kian ekspansif.

Melihat begitu besarnya potensi kekuatan di timur Jawa yang dikonsolidasi oleh Kadipaten Surabaya, Sultan Agung mulai melancarkan kampanye militer Mataram ke wilayah timur Jawa pada awal abad ke-17, tepatnya pada tahun 1914 dengan menyerang sekutu-sekutu Kadipaten Surabaya. Upaya ini tak lepas dari ambisi Sultan Agung menyatukan Jawa di bawah Mataram.

Tak tinggal diam, Kadipaten Surabaya bersama para sekutunya melakukan serangan balik untuk menghantam kekuatan Mataram. Sayangnya, serangan itu dapat dikandaskan Mataram pada tahun 1616 di dekat Pajang.

Mataram akhirnya melancarkan strategi dengan ekspedisi untuk menaklukkan sekutu-sekutu Kadipaten Surabaya. Upaya ini membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Pada tahun 1620, seluruh sekutu Kadipaten Surabaya berhasil ditaklukkan pasukan Mataram hingga wilayah Kadipaten Surabaya terkepung dari segala penjuru.

Serangan ke timur Jawa, hingga akhirnya berhasil mengepung pusat Kadipaten Surabaya, dimulai pasukan Sultan Agung, dengan menyerang wilayah selatan Kadipaten Surabaya, yakni di wilayah Malang dan Pasuruan pada tahun 1614. Upaya ini sempat mendapatkan perlawanan dari pasukan Surabaya namun berhasil digagalkan.

Tahun berikutnya, pada 1615, pasukan Sultan Agung berhasil menaklukkan Wirasaba. Bahkan, penakhlukkan ini dipimpin sendiri oleh Sultan Agung. Akibat takut Tuban melakukan serangan dadakan, akhirnya Surabaya tak mengirimkan pasukan saat Wirasaba dihancurkan Sultan Agung.

Takluknya Wirasaba menjadi ancaman besar bagi Kadipaten Surabaya dan kerajaan-kerajaan kecil anggota sekutunya. Mereka akhirnya mengerahkan pasukan besar menuju Pajang yang kala itu mulai membara dengan melancarkan pemberontakan ke Mataram.

Upaya pengumpulan kekuatan pasukan sekutu Kadipaten Surabaya di Pajang untuk membantuk pemberontakan ke Mataram ternyata tercium oleh pasukan telik sandi Mataram yang berada di Tuban.

Pasukan sekutu Kadipaten Surabaya yang akan berangkat ke Pajang ditipu oleh pasukan telik sandi Mataram sehingga salah mengambil jalur yang sangat berat menuju Pajang. Laju pasukan tersebut akhirnya terhambat di wilayah Siwalan dan dihancurkan pasukan Mataram pada Januari 1616.

Pasukan Sultan Agung akhirnya berturut-turut meraih kemenangan menghadapi sekutu-sekutu Kadipaten Surabaya. Yakni menghancurkan Lasem pada tahun 1616. Dan dilanjutkan penaklukkan Pasuruan pada tahun 1616-1617.

Bahkan, Pajang yang akhirnya melancarkan pemberontakan kepada Mataram pada tahun 1617 juga berhasil dihancurkan oleh pasukan Mataram. Sisa-sisa pasukan dan pemimpin Pajang akhirnya melarikan diri ke Kadipaten Surabaya.

Dalam ekspansi pasukan ke wilayah timur Jawa tersebut, Sultan Agung akhirnya mampu menaklukkan Tuban pada tahun 1619. Tuban merupakan salah satu kekuatan besar sekutu Kadipaten Surabaya karena menjadi pusat pembangunan kapal-kapal laut penopang utama kekuatan angkatan laut Kadipaten Surabaya.

Hancurnya kerajaan-kerajaan kecil sekutu Kadipaten Surabaya semakin memuluskan jalan pasukan Mataram untuk mengepung Surabaya dari segala penjuru. Pengepungan Surabaya ini dimulai tahun 1620 hingga tahun 1625.

Butuh waktu lima tahun bagi pasukan Mataram untuk menaklukkan Kadipaten Surabaya. Hal ini disebabkan beratnya medan dan faktor alam yang harus dihadapi pasukan Mataram. Di mana Kadipaten Surabaya berada di antara cabang-cabang Sungai Brantas sebagai benteng alami.

Bukan hanya itu, pusat Kadipaten Surabaya juga dilindungi oleh tembok keliling dan diperkuat dengan meriam-meriam mematikan. Mataram akhirnya melakukan upaya pengepungan Kadipaten Surabaya dari darat dan laut mengingat Kadipaten Surabaya merupakan kota pelabuhan besar. Seluruh jalur logistik menuju Kadipaten Surabaya diblokade pasukan Mataram.

Upaya blokade oleh pasukan Mataram ini sering terhambat oleh musim penghujan. Akhirnya upaya blokade itu dilakukan pasukan Mataram dengan mengikuti pola musim. Saat musim kemarau, pasukan Mataram langsung melakukan blokade jalur logistik, dan secara agresif menghancurkan tanaman pertanian serta menjarah hasil panennya sehingga membuat rakyat di Kadipaten Surabaya sengsara.

Tak main-main, untuk menaklukkan Kadipaten Surabaya ini, Mataram lima kali mengirimkan ekepedisi besar pasukannya. Pada tahun 1670 dikirim 70.000 bala tentara, tetapi mampu dikalahkan oleh 30.000 pasukan Kadipaten Surabaya. Pasukan Mataram kewalahan karena tidak memiliki cukup persediaan makanan selama pertempuran.

Upaya kedua dilakukan tahun 1622. Langkah ini juga gagal karena lagi-lagi faktor persediaan makanan. Upaya yang sama diulang lagi pada tahun 1623, dan kembali lagi pasukan Mataram menemui jalan buntu untuk menaklukkan Kadipaten Surabaya.

Pada 1624 dilakukan upaya penyerangan dengan menduduki dan melakukan penjarahan di permukiman-permukiman penduduk, sehingga memaksa penduduk Kadipaten Surabaya tersebut mengungsi ke dalam pusat kota Kadipaten Surabaya. Strategi ini dibarengi dengan penakhlukan sekutu Surabaya di luar pulau, seperti Madura, dan Banjarmasin, sehingga memutus rantai pasokan logistik ke Surabaya melalui jalur laut.

Upaya pengepungan kelima yang dilakukan pasukan Mataram terhadap Kadipaten Surabaya, dilakukan tahun 1965. Pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Mangun Oneng dan dibantu Tumenggung Yuda Prasena serta Tumenggung Ketawangan.

Pengepungan kelima ini dilakukan lebih sadis. Pasukan Mataram membendung aliran Sungai Brantas sebagai nadi kehidupan pusat kota Kadipaten Surabaya. Senjata biologis juga digunakan dalam pengepungan ini. Pasokan air yang tersisa masuk ke pusat kota Kadipaten Surabaya diracuni dengan bangkai binatang.

Pusat kota Kadipaten Surabaya, mengalami bencana kekurangan makanan yang sangat dahsyat. Seluruh jalur pasokan logistik telah diblokade pasukan Mataram. Bahkan air yang masuk kota juga telah diracun dengan bangkai-bangkai binatang. Kelaparan dan wabah penyakit menjangkiti seluruh warga di pusat kota.

Penderitaan dahsyat yang dirasakan rakyat di pusat Kadipaten Surabaya tersebut memaksa Adipati Surabaya, Jayalengkara menggelar rapat dengan dewan bangsawan kota untuk membahas persoalan tersebut. Dalam pertemuan tersebut Adipati Pajang yang melarikan diri ke Surabaya usai pemberontakannya digagalkan Mataram menolak menyerah dan ingin melanjutkan upaya perlawanan terhadap Mataram.

Tetapi faksi-faksi bangsawan lain yang duduk di dewan bangsawan kota menyarankan Jayalengkara untuk menyerah kepada kekuatan Mataram. Akhirnya, Jayalengkara memilih untuk menyerah kepada Sultan Agung. Karena usianya yang sudah senja Jayalengkara akhirnya meninggal dunia tak lama usai Kadipaten Surabaya ditaklukkan Mataram.

Surabaya akhirnya takluk dengan segala penderitaannya. Wabah penyakit dan kelaparan yang mematikan menjadi hantu menakutkan bagi warga kadipaten yang pernah besar dan menguasai timur Jawa.


Editor : Rizal Bomantama

BERITA TERKAIT